Saturday, October 6, 2007

REQUESTION HASIL PENGAMATAN SAUDARA 'A

REQUESTION HASIL PENGAMATAN SAUDARA 'A'

Terobosan 1 april 2007, rubrik opini

Muhammad Jamaluddin

Tulisan Saudara A di terobosan 1 April 2007di rubrik opini cukup menarik untuk dikritisi, disamping karena tulisannya cukup propokatif juga mengandung pegamatan yang bukan saja tidak memenuhi krateria sebagia sebuah pengamatan bahkan boleh dikataktan sebagai tulisan yang ngawur, angaggapan ini bukanlah tidak beralasan. Metohodology pengamatan dan penulisan yang digunakan memilki tanda Tanya besar, yang barangkali saudara A sendiri tidak memeahami gaya penlisan yang digunakan (bukan menuduh).

Pengamatan saudara A dimulai dengan interaksi Masisir yang dinilainya sebagai sebuah dinamika yang tidak perlu tindakan dari BPA, sepertinya Saudara A menganggap itu adalah sebuah kebebasan indvidu yang tidak perlu intervensi orang lain. Hal ini terlihat sikap saudara A yang tidak jelas posisinya (tidak mendukung tidak juga menolak) tapi mempertanyakan kembali., tentang penerapan undang-undang tem pemantau interaksi Masisir terhadap BPA.

Yang perlu dinilai dari tulisan saudara A ini adalah definisi dan arti kebabasa dalam masyarakat pulral serta cara pandang saudara A terhadap uu tem pemantau interaksi Masisir. Bahkan sentimen kelompok yang meliliti saudara A sehingga tulisanya bukan saja mengandung subyektivitas bahkan cenderung menuduh. (saudara A bisa saja mengelak dari anggapan ini.)

Jika kebebasan yang didukung oleh saudara A, kebebasan apa yang dimaksud? Dan kebebasan menurut cara pandang siapa? Apakah kebebasan seenak dewe?, jika pluralitas yang diusung, pluralitas macam mana..? apakah pluralitas sejenis kotoran dalam tong sampah.?. ironisnya saudara A ini mendukng pluarlitas tapi dia sendiri sentimen kepada suatu kelompok yang digandrungi oleh aglabiyah Masisir. Kenapa saudara A tidak memahami itu sebagai dinamika masisir..?

Dalam pengamatan saudara A yang kedua tentang krisis intelektual masisir yang cendrung rigid dan stagnan, stressing pengamatan saudara A pada krisis methodology yang dialami oleh Masisir. Menurutnya tuduhan ini berawal dari Hamid Fahmi Zarkasyi kemudian disambut oleh Ramli Syarkowi untuk mengurangi tuduhan ini. Kemudian saudara A mengaitkannya dengan satu kelompok yang digandrungi oleh masisir yng disebutnya sebagai Islam pergerakan.

Menurut saudara A kelompok Islam pergerakan ini cendrung tekstuil, tidak demokratis, tidak menghormati dinamika pluralitas Masisir, bahkan karateristik yang dibuatnya selalu menggunakan nomenkaltur-nomenkaltur Arabis. Seolah saudara A ini menyimpulkan bahwa kelompok Islam pergerakan inilah yang menyebabkan kemunduran intelektual masisir.

Tuduhan ini bukan saja ngelantur bahkan lebih dari ngawur, tapi kadangkala orang yang bodoh menganggap ini sebagai suatu tulisan yang ilmiyah dan obyektif, seolah inilah yang diesbut sebagai metodology penulisan yang standar, dengan menggunakan nomenkaltur-nomenkaltur baratis. Padahal nomenkaltur-nomenklatur yang digunakan itupun mengekori gaya Barat. Dan Saudara A ini sepertinya tidak suka mendengar istilah Antum, Akhi, Insya Allah, dan lain-lain yang berbau arab barangkali lebih suka dengan You, Botrhers, God willing, dan lain-lain yang beraroma barat. It`s ok

My brother A, didalam ilmu apupun memilki stadar, epistemology, methdodology termasuk nomenklatur-nomenklatur yang digunakan. Bahkan klasifikasi ilmu-ilmu dalam Islam memiliki nomenklatur-nomenklatur tersendiri. Seperti dalam ilmu hadist memilki istilah yang berbeda dengan ilmu tafsir. Islam memiliki nomenklatur tersendiri yang tentu beberapa nomenklatur itu berbeda substansinya dengan Barat, begitupun sebaliknya. Kenapa kita tidak bangga dengan nomenklatur-nomenklatur kita sendiri.

Diakhir tuisan dari hasil pengamatan Brother A tentang Islam pergerakan yang berkembang di kalangan Masisir. Menurut hasil pengamatan brother A, bahwa sikap Islam pergerakan ini lebih puas dengan pemahaman islam secara tekstual, dan menganggap islamlah sebagai solutif terbaik. Tapi saudara A sendiri tidak memberikan solusi terbaik selain Islam dan pemahaman Islam kontekstual yang bagaiman dimaksudkan oleh brother kita ini.?. nampaknya brother kita ini bukan memberi solutif tapi malah merumitisasi masalah di kalangan masisir. Dan penulis kurang mengerti, bagaiana cara pandang brother A ini terhadap Islam.?

Cara pandang

Cara pandang adalah membentuk presepsi kita tentang sesuatu, dan setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda-beda tentang sesuatu. Sebab itulah Islam memberikan landasan dasar tentang cara pandang. Bagaimana cara pandang kita misalnya terhadap islam secara umum, terhadap Allah Swt, terhadap Al qur`an, terhandap Rasul, terhadap Sunnah Rasul, terhadap sahabat, tehadap para ulama, terhadap syariat islam, terhadap kebebasan, terhadap kebenaran terhadap demokrasi dan lain sebagainya.

Jika kita sebagai muslim memandang islam dengan kacamata Barat, tentu bukan saja salah tapi bisa jadi islam dianggap sebagi musuh baru, jika pandangan kita terhadap Tuhan dengan landasan barat, tentu bukan saja Syirik yang terjadi tapi Atheis, karena Tuhan itu apa yang disepakati oleh akal Manusia, al quran bukan saja dikritik tapi direkonstruksi, Nabi tidak lagi dianggap teladan tapi dihujat, sahabat dianggap monopoli, diktator, ulama tidak lagi dihormati, kebebasan bisa saja sebebas-bebasnya tanpa ada batasan-batasan syar`i, kebenaran bisa saja salah begitupun sebaliknya (relatif) dan lain-lain.

Begitupun ketika memandang uu team pemantau interaksi Masisir yang ingin diterapkan oleh BPA, paling tidak menggunakan cara pandang standar Syr`i, serta maqosidnya bermaslahat untuk semua Masisir. Tapi jika Brother A memandang team pemantau Interaksi sosial masisir sebagai sesuatu penyempitan kebebasan, tentu sampai akhir zamanpun anda akan terus mempertanyakan hal ini.

Terus cara pandang Brther A terhadap Islam, dengan ungkapanya bahwa islam pergerakan lebih cendrung memilih Islam sebagi solutif.

Bagi penulis bukan hanya pandangan Islam pergerakan yang menjadikan Islam sebagai solutif tapi seluru orang yang mengaku dirinya Muslim. Dari mulai diajarkan Islam oleh Rasulullah kepada sahabatnya sampai akhir zaman pandangan kita sebagi seorang Muslim tetap Islam adalah solusi. Lihatlah pada zaman sahabat. Pada saat itu belum ada istilah Islam pergerakan dikalangan sahabat, mereka tetap kembali kepada Al Quran dan hadist Rasulullah, dan merut Manna Al Qottan dalam bukunya Tarikh Tasyrik alislamy, bahwa pada periode sahabat landasan hukum utama yang digunakan adalah Al Qur`an, kemudian sunnah kemudian barulah Ijtihad dikalangan sahabat. (hlm 189).

Sebab itu Saayid kutub menjelaskan cara pandang seorang muslim terhadap islam dalam bukunya Al muqowwamatu Al Tassawrul Islam, atau dalam bukunya Khashois Al Tasswrul islamy kemudian dalam bukunya Yusuf Al Qordhowi, syumulul Islam, dalam bukunya muhammad Syaltut, Min taujihatil Al islam, Muhammad Qutub dalam bukunya, Al Islam kabadili anil Afkar wal akaidi al mustauradah, muhammad Imarah dalam buklunya, Haza huwa El islam, said hawa dalam bukunya El Islam, Muhammad Al Ghozali dalam bukunya, kaifa Nafhamul islam, dan secara gambalang Dr. Muhammad Al Dusuki menjelaskan tentang metodology risearc terhadap ilmu-ilmu Islam, dalam bukunya, Manhajul bahst fi ulumil islamiyah. Kajian beliu sekaligus membetuk cara pandang kita terhadap Islam secara menyeluruh.

Jadi slogan islam sebagai solutif sebenarnya bukan hanya selogan islam pergerakan tapi selogan orang yang mengaku dirinya beridentitas Muslim, seperti yang dikatakan oleh fathiyakan dalam buknya Maza yakni intima`i lil Islam, bahwa diantara pengakuan beridentitas islam adalah, hidupnya untuk islam, pengakuan mukmin dan wajib berbuat untuk Islam, serta meyakini bahwa masa depan adalah milik islam. Hal ini senada denga selogan yang diungkapkan oleh Dr. Yusuf Al Qordhowi dalam bukunya "Al Islam Hadhoratul Ghod".(islam adalah peradaban masa depan)

Penulis tidak memaksa saudara 'A' untuk mengikuti cara pandang ulama-ulama islam diatas sebab mungkin saudara 'A' memiliki cara pandang yang berbeda yang bersumber dari yang anda anggap sebagi intelektual muslim, atau ulama. Hal itu wajar, tapi paling tidak anda membaca alasan-alasan ulama-ulama yang penulis sebutkan tadi, kenapa islam dijadikan solutif.

Tulisan ini bukanlah mewakili teman-teman yang aktiv diislam pergerakan, karena penulis akui mereka lebih tahu orientasi perjuangan serta pengorbanan yang mereka lakukan. Akan tetapi penulis hanya ingin melihat secara obyektif bahwa aktivitas yang sedang diperjuangkannya adalah realitas dari sebuah dinamika masisir sesuai dengan selogan PPMI sediri mengedepankan 'pluralitas' yang walupun pluralitas yang diusungnya itu seperti yang penulis telah jelaskan.

Sakaan Ramses, 15 mei 2007

No comments: