Sunday, February 25, 2007

KERANGKA MEMAHAMI ISLAM SECARA OBYEKTIF

KERANGKA MEMAHAMI ISLAM SECARA OBYEKTIF
Studi kritis pandangan Barat terhadap Islam

Pendahuluan

Terdapat beberapa alasan pentingnya mengetahui kerangka memahami islam secara obyetif dan benar pada era globalisasi saat ini. Pertama, terbukanya masyarakat global untuk mempelajari agama-agama, dengan tujuan sebagai studi perbandingan, pengkaburan terhadap nilai-nilai agama, tujuan ekonomi, politik, bahkan juga tujuan permusushan dengan mencarai kekurangan-kekuaranganya dengan berbagai metode untuk melumpuhkannya. Kedua, menjaga agar pemahaman tehadap agama itu (khususnya Islam) tetap murni dan terjaga dari pemikiran yang menyelewngkan pemahaman agama yang sebenaranya atas nama obyektivitas dan ilmiyah. Ketiga, ditengah pluralitas pemikran dan pemahaman masayarakat global tentang islam, maka perlunya mecari indentitas diri dan posisi dalam mengahdapi semua itu. Sebab jika seorang tidak memiliki sikap dan posisi terhadap agama, maka saat itulah mulai sebuah pengkaburan (tasywis) terhadap kerangka pemahaman terhadap Agama (khususnya Islam).karena muncuulnya pengaruh-pengaurh yang ada di sekitarnya.

Pandangan obyektif

Untuk memehami sebuah Agma yang mengahasilkan suatu nilai yang objektif tidak terlepas dari kerangka cara berfikir yang berlandaskan pada sebuah epistemology. Landasan pemikiran adalah sangat menentukan peneilaian obyektif terhadap sebuah keyakinan (agama). Hal ini karena agama bukan saja mengajarkan hal-hal yang rasionil, pihsik, metril, tapi juga sebuah dogma, doktrinitas, metafisis, supra natural yang perlu sebuah keyakinan yang dijalankan tanpa di rasionalkan. Maka jika semua kajian dan pemahamn terhadap agama dirasinalkan dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah kajian dan pemahaman yang objektif dan ilmiyah, maka justru metode, fremawork kajian untuk memahami yang dipakai adalah tidak obyektif dan ilmiyah.maka secara otomatis hasilnyapun sangat tidak obyektif.
Jika seseorang ingin memahami agama Kristen, budha, hindu, Islam, maka perlunya melihat dan memahami landasan pemikiran dan pandangan hidupa (Woldview) dari masing-masing agama. pandangan hidup islam berbeda dengan pangan hidup Kristen, buda, hindu da agama yang lain.maka aakan sangat tidak objektif bahkan rancuh pabila cara sudut pandang Kristen terhadap agamanya dipakai untuk memahami Islam begitupun sebaliknya.
Barat – orientalis biasanya menilai dan memandang segala sesuatu termasuk memandang islam dengan berkdok akademik dalam metode menganalisisis sebagai syarat obyektivitas dalam cara sudut pandang. Padahal dalam jubah obyektivitas itu penuh dengan prasangka, sarat nilai dan segudang kepentingan, yang bersifat ekonomis maupun politis. Hal ini seperti yang di katakana oleh Dr. Mustfa Adumairi,
setidaknya ada empat motif mengapa barat-orientalis mengkaji dunia timur (islam), pertama, motif keagamaan, Barat yang pada satu sisi mewakli Kristen menganggap Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrinitas-doktrinatas mereka. Kedua, motif imperialisme,setelah kekalahan perang salib, rasanya barat tidak mampu lagai untuk menghadapi Islam dengan jajahan fisik, kemudian merubah strategi melalui penjajanhn politik dan ekonomi, ketiga, motif ilmiyah, yang mengkaji Islam denga methode ilmiyah dengan fremawork dan tujuan yang sama,yaitu mencari titik kelemahan Islam dan untuk dimusuhinya. Setidaknya ada tiga stressing kajian ilmiyah yang mereka tekuni untuk memahami Islam. 1. kajian terhadap Al quaran. Diamana melakukan kritik terhadap Al quran, dari sisi teks dan historisitas. Sebut saja sepertiLeo III ( 717-741 )Salah seorang dari kalangan Kristen termasuk yang paling awal menghujat Al-Qur'an,Johannes dari Damaskus ( ± 652-750 ), Abdul Masih al-Kindi ( ± 873 ), yang biasa dijadikan rujukan oleh kalangan kristen untuk menghujat Al qura, ia adalah seorang misionaris amerika yang bertugas di mesir,Petrus Venerabilis (Peter the Venerable 1094-1156) seorang Kepala Biara Cluny di Perancis Martin Luther (1483-1546), Ricoldo da Monte Croce (±1243-1320), Juldud Zaheer, dalam Bukunya , sejarah aliran – aliran Tafsir dalam Islam, Attur Jefrry dalam Bukunya, Masodiru Tarikhul Qura`an. Yang semunya bermuara pada titik temu keraguan terhadap otentisitas al quran sebagai wahyu Allah
2. kajian pada di bidang Hadist. Ruang lingkup yang di kaji sekaligus kritikan terhadap hadist, dimulai dari sumbernya yaitu Nabii Muhammad, kemudian Matan
hadist, dan sanad
Hadist. Seperti Ignaz Goldziher (1850 – 1921), orientalis Yahud kelahiran Hongoria, dalam Bukunya, Muhammadanische Studien (studi Islam) Prof. Dr. Joseph Scacht , dalam bukunya The origins Of Muhammad jurisprudence.(1950 M), A. Gullaume, dalam bukunya yang berjudul, The tradition Of Islam (Hadist-hadist Islam).
Kritikan yang dilakukannya mengarah kepada pandangan yang tidak obyektif, mereka menganggap bahwa hadist-hadist itu semuanya palsu dan tidak otentik karena bukan berasala dari nabi Muhammad, dan menuduh Ummat Islam mengatakan Bahwa semua jhadis itu asli dan Shoheh
. 3. kajian orientalis spelisasi di bidang sejarah Islam. Biasanya metode yang dipakai oleh mereka khusus dalam kajian sejarah cendrung menghidupka kembali konflik yang terjadi pada masa lampau, seperti konflik anatra pendukung Ali RA dan Muawiyah, serta sejarah tumbuhnya aliran-aliran dalam Islam seperti, syiah, Khawrij, Sunni, yang mengarah kepada perbedaan pemikiran dan Idiologi. Dari sisi ritual melalalui pendeketan Falsafak sufistik dan pendekatan secara intelektual melalu pemikiran Muktazilah.
Dainatar mereka, seperti Barron Carra de Vaux dalam mebuat “eknklopedia Islam” bersama A. J. Alberry, william Muir dalam bukunya Hayatu Muhammad (kehidupan Muhammad), S. M. Zweimer, oreintalis sekaligus penggagas misionaris, pengagas majalah “Dunia Islam”, Dr. B. Makdoland dalam bukunya, Thathawuru ilmul kalam wal Fiqh wa Nazriyatu dustura Fil Islam, (1903), L. Massignon, dalam Bukunya “ Alhallaj : Tokoh Sufi Dalam Islam” (1992). Dan yang lainya.
Sebagai kesimpulan dari apapun yang mereka kaji tentang Islam melalalui multi sarana, seperti Ilmiyah, obyektivitas, akademik, semuanya berhilir pada apa ayng telah di catatat Al Quran “mereka ingin memadam cahaya Ilahi”
. Dan aktivitas ini tidak akan pernah behenti hingga ummat Islam mengikuti jalan (millah) mereka
.bahkan Dr. Zaglul Najjar sampai kepada sebuah kesimpulan berdasarkan pada analisa fenamenologis, Bahwa “ realitas hubungan antara Islam dan berat senantiasa bertentangan dan menegangkan dari 14 abad yang silamsemenjak diutusnya nabi Muhammad, hingga Sekarang bahkan sampai Hari Kiamat”.
Dan resistensi antara islam dan Barat menurut Dr. Yusuf Al Qordhowi adalah buka sekedar benturan peradaban seperti yang dikatakan oleh Samuel P huntington dalam Bukunya Clash Of civilization, atau benturan kepentingan seperti yang dikatan oleh Fawazh A. Gerges dalam bukunya, ...... akan tetapi lebig kepada benturan yang mendasr yaiyu clash presepsi (al mafahim) serta perbedaan pandanag hidup,. Beliau berkata begini “sudah diketahui jauh sebelumnya pertentangan antara keduanya (Islam Dan Barat), merupakan pertentangan (tanaqud) epistemologi dan aksiologis. Dan adapun untuk mendekatkan keduanya adalh Mustahil, hal ini disebabkan karena perbedaan fremawork, termonolgi, methode, epitemolgi yang dipegang oleh keduanya. Dan tidak ada manfaatnya untuk melakuakan dialog (hiwar) antara keduanya antara timur (islam) dan Barat sebab jika salah satu daintara keduanya mendekat maka yang satunya akan menjauh”
Berdasrkan argumentasi diatas dapatlah kita ketahui, bahwa tidak mungkin (mustahil) kajian barat terhadap islam akan menghasilkan yang obyektif dan ilmiyah, Sebab untuk mendapatkan definisi dan makna islam yang sebanarnya secara obeyektif hanya dengan menggunakan Pandanngan Hidup Islam. Kajian orientalis barat terahdap Islam tidak menghubungkan kjian mereka tentang islam yang spesifik dengan prinsip yang umum dan yang universal. Kajian mereka tentang hal-hal yang speasifik seperti tentang sejarah Al Quran, etika dalam Islam, politik dalam Islam dan lain-lain tidak di kaitkan dengan makna islam sebagai suatu agama dan pandangan hidup yang memiliki prinsip dan tradisinya sendiri. Prinsip bahwa ilmu mendorong kepada iman, misalnya, tidak tercermin dalam tulisan-tulisan mereka. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki tidak mendorong para pembacanya untuk beriman kepada Allah Swt.. tidak juga membuat mereka sendiri yakin dengan kebenaran Islam.. lantas apa motivasi yang mendorong mereka untuk bersikap simpatik kepada Islam serta mempelajari tentang Islam. Ada beberapa lasan yang menjadi argumentasi darinya, yang akan kita akan jelaskan secara khusus nantinya.
Pendekatan untuk memahami Islam yang di lakukan oleh Bara-orientalis, melalui pendekatan filsafat (phloshopy aproche), sehingga tidak mungkin akan menemukan obyektivitas dan ilmiyah, (yang mereka katakan ilmiyah dan obyektif). Pendekatan itu adalah :
pendekatan histories, atau sejarah
pendekatan metodologis
pendekatan analitis
pendekatan eksistensial
pendekatan semuanya berlandaskan pada penalaran. Dimana Nalar memungkinkan untuk membedakan yang baik dari yang buruk, tetapi tanpa perlu menghujat. Yang pada akhirnya menuju pada sebuah titik pemahaman “relativitas kebenaran” tidak adanya claim kebenaran (trust-clame).

Padahal dalam meneliti sesuatu ada yang disebut dengan penelitian kuantitatif dan kualitatif yang tidak bisa dipisahkan dari keduanya. Hal ini sesuai dengan pendapat Newman dan Benz (1998:9-10) ke dua metodologi tersebut merupakan continuum interaktif. Namu Ke dua pendekatan tersebut dapat di bedakan melalui latar belakang filsafatnya; pendekatan kuantitatif digunakan bila seseorang memulainya dengan teori atau hipotesis dan berusaha membuktikan kebenarannya, sedangkan pendekatan kualitatif bila seseorang berusaha menafsirkan realitas dan berusaha membangun teori berdasarkan apa yang dialami. Dan Pengembangan Teori dalam Penelitian Kualitatif Kebenaran falsafati (idiologi) dan religi (agama) dianggap sebagi kebenaran mutlak. Kepada kita hanya ada dua pilihan: ambil atau tinggalkan (take it or leave it); kalau kita mengambilnya atau menganutnya maka kita harus mengerjakan semua perintah atau ajarannya. Namun justru karena perkembangan dalam falsafah dan agama itu sendiri, serta perkembangan budaya dan akal manusia, maka kita mulai mempertanyakan apakah memang kebenaran mutlak itu mengharuskan adanya kesatuan pengertian dalam segala hal mengenai hidup, kehidupan, dan bahkan alam semesta ini seragam? Mulailah berkembang berbagai mazhab atau aliran dalam bidang falsafah dan agama dengan memberikan penafsiran terhadap apa yang telah diperintahkan secara tertulis.yang akhirnya bermuara pada methode hermeneutika dalam memahami teks Agama.
.
Kemudian penelitian melalu pendekatan posovistik dan postpositivistik atau fenomenologik dan hermeneuistik. Pendekatan pertama, (posovistik Atau fenomenologik) yang berakar pada ilmu-ilmu eksakta menemukan kebenaran untuk tujuan generalisasi. Pendekatan kedu, (post-Posovistik atau hermeneutic) yang berakar pada ilmu sosial dan antropologi menemukan kebenaran tidak untuk keperluan generalisasi. Untuk penelitian di bidang sosial, seharusnya pendekatan fenomenologik atau hermeneustik yang diterapkan. Pendekatan postpositivistik masih berkembang dengan perspektif ideologi baru seperti seperti pasca modernis, paradigma kritis, penedekatan feminis, dan pendekatan konstruktivis yang perlu dikajilebih lanjut.
Semua penelitian pada hakekatnya merupakan usaha mengungkap kebenaran. Kebenaran ini dapat dibedakan dalam empat lapis. Lapis paling dasar adalah kebenaran inderawi yang diperoleh melalui pancaindera kita dan dapat dilakukan oleh siapa saja; lapis di atasnya adalah kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui kegiatan sistematik, logis, dan etis oleh mereka yang terpelajar. Pada lapis di atasnya lagi adalah kebenaran falsafati yang diperoleh melalui kontemplasi mendalam oleh orang yang sangat terpelajar dan hasilnya diterima serta dipakai sebagai rujukan oleh masyarakat luas. Sedangkan pada lapis kebenaran tertinggi adalah kebenaran religi yang diperoleh dari Yang Maha Pencipta melalui wahyu kepada para nabi serta diikuti oleh mereka yang meyakininya.
Kalau kita bisa menganalisa secara kritis, maka pendekatan Barat terhadap kajia Agama lebih kepada pendekatan posovistik atau fenomenonolgik dan post-posofivisti atau Hermenutika, bukan dengan pendekatan Kualitatif, dimana Kebenaran falsafati (idiologi) dan religi dianggap sebagi kebenaran mutlak. Jadi pendekatan dan penelitian yang mestinya di gunakan untuk kajian social, antropologi, filologi digunakan untuk mengakji dan memahami teks Islam.
Islam mengajarkan fremawoek berfikir yang ilmiyah dalam memandang dan menilai sesuatu dengan epistemology yang jelas. Landasan berfikir dan mengkaji sesuatu dalam Islam mengahsilkan kepuasa intelektual dan spiritual, sehingga tidak adanya sebuah keraguan dalam mencapai sebuah kebenaran yang hakiki. Secara ringkas Dr. …. Menjelaskan deskriosi fremawork berfikir ilmiyah menurut islam sebagai Berikut
: pertama, dalam mebangun landasan berfikr hendaklah didasairi dengan Argumentasi (dalil) yang benar, sehingga mencapai rasa kepuasan secara intelektula dan spiritual (ketenangan Hati).
Larangan Al quran untuk berfikir tanmpa dalil terdapat didalam firman Allh Awt. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui, karena pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (alisra` 36)
Sayyid Qutb didalam mengomentari ayat ini beliau berkata “ayat yang pendek ini memiliki nilai serta methode (kajian) yang sempurna yang meliputi hati dan akal. Dan mencakup fremawork ilmiyah seprti yang dislogankan oleh manusia modern saat ini. Ianya bersandarkan kepada keteguhan hati serta pendekatan diri kepada Allah swt yang merupakan keistimewaan dan nilai Plus dalam metode kajian yang digunakan Islam dibandingkan hanya bersandarkan kepada Akal yang gersang. Maka untuk mengkaji segala bentuk informasi, relitas, atau sebuah penelitian perlunya memiliki epistemology pemikiran jelas, valid , dan al Quarna adalah landasan darsar utama sebelum menentukan dan menetapkan sebuah kesimpulan( dari sebuah penelitian). Jika tetap komitment dengan metode ini (alquran sebagai landasan dasar dalam kerangka berfikir), maka tidak ada tempat bagi keraguan didalam Aqidah, tidak ada tempat bagi prasngaka dan syubhat dalam dunia hokum dan undang-undang serta muaamalah, dan tidak akan mengahsilkan kesimpulan subyektif (dangkal) dalam metode penelitian dan kajian ilmiyah.
Kedua, menghindari prejudice dan dugaan Adapun yang dimaksud dengan sandaran pemikiran dugaan adalah disebabkan karena pengetahuannya yang terbatas terhadap sebuah kebenaran yang hakiki tentang sesuatu. Dan adapu arti dari dugaan itu sendiri adalah prangsangka yang dibangun di dalam diri yang bersandarkan kepada kesimpulan mendekati atu hampir tanpa adanya dalil yang pasti dan jelas untuk menguatkan argumentasi pemikiran yang di bangun. Landasan pemikiran dugaan ini telah di jelaskan didalm Qs. 6:116, 43:20, yang menegaskan bahwa landasan pemikiran itu tidak bisa dibanguan hanya dengan mengikuti akal pikiran manusia, hal ini karena keterbatasan akal dan ilmu yang dimilikinya sehingga melahirkan penipuan dalam sebuah hasil kesimpulan. Dan dugaan adalah bangunan pemikiran yang tdak berlandaskan kepada ilmu yang berpegangan hanya kepada prasangka.
Para ulama bersepakat bahwa landasan dasar sebuah keyakinan dan keimanan dengan menduga-duga adalah mazmum, karena keimanan hanya dapat dapat dibangun dengan keyakinan bukan dengan dugaan. Sedangkan prasangka adalah sebuah keyakinan serta landasan yang lemah jika di kaitkan dengan keimanan terhadap pengetahuan yang ghoib. Seprt terdapat dalam Qs. 1:46, dimana mereka hanya bersandarkan kepada akal yang lemag yang tidak meliliki dalil yang shohih. Dan sebuah kesimpulan yang lemah yang tidak dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiyah jika itu berhubngan dengan saintific Risearch, yangmana tidak akan mungkin mencapai dan menemukan sebuah kebenaran yang hakiki. Liha Qs. 10:36.



Sumber definisi Islam

Merupakan suatu yang sanagat krusial untuk memahami islam dari sumbernya. Hal ini sangat di tekankan oleh Muhammad AlGozali tentang penting memahami islam dari sumberaslinya, sehingga dalam memberikan definisi, landasan pemikiran islam itu benar-benar murni. Tidak terpengaruh dengan pemahaman barat terhadap Islam, apalagi mengambil pemahaman barat itu, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan ummat islam.
Muhammad AlGozolai berkata begini “saya bertanya kepada diri saya, andaikata saya orang amerika atau eropa (barat), apakah saya memeluk Islam dan mengetahi Allah yang maha besar, beriman kepada Al Quran serta menyambut kebenaran yang telah di bawa oleh Nabi Muhammad. Saya tidak mengira itu ! maka darimana saya mengetahui semua ini? Dan bagai bagaimana memudahkan saya untuk sampai kepadanya?”

Perkataan Muhammad Al Gozali diatas memiliki dual kritik, pertama , bahwa Barat tidak memahami islam itu sebenarnya, mereka tidak mengetahui Tuhan, Al Quran, kebenaran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. dan seseorang tidak akam memahami Islam kecuali ia berada didalam islam itu sedndiri – dan melakukan segala ketentuan yang ada didalamnya. Kedua, ummat islam hendaknya memahami dan mempelajari islam itu dari Islam itu sendiri, jangan tunggu orang barat untuk mengajarkan Islam kepada Ummat islam. Selanjutnya Muhammad Al Ghoazali berkata “sesungguhnya orang Amerika dan Eropa (barat) lebih banyak mengetahui ladang minyak Arab daripada mengetahui AlQuran!! Dan ladang minyak Arab adalah sumber alam terbesar yang tidak di ketahui oleh orang ARab sendiri. Dan adapun orang barat yang membutuhkan sumberdaya alam itu mengutus tenaga profesinal yang tidak beriman, dan dengan ilmu yang dangkal untuk memafaatkan ini semua”
. Dan apakah dalam memahami, mendifisikan, menjaga islam ini, orang Arab (islam) menunggu orang barat untuk mengajarkan kepada mereka !!
Barat – orientalis ingin mengethui dan memahami islam karena atas dorongan ingin menjajah dan menguasai dunia timus (islam). Hal ini seprti yang di katakana oleh edwrd Said bahwa “selama abad kesembilan belan dan dua puluh, relah di buat Asumsi bahwa dengan dunia timur dan segala Isinya, jika bukan secara patent inferior terhadap barat, maka ia perlu kajian koreksif oleh barat. Dunia Timur di pandang seakan –akan berada dalam wadah berupa ruang kelas, pengadilan pidana, penjara dan manual bergambar _ untuk tujuan penelitian,pengkajian, pengadilan, pendisipklinan, atau pemerintahan atasnya.
Atau seprti yang dikatakan oleh orientalis inggris George sale (1697 – 1736) , Ia menulis “selama bertahun tahun bahkan berabad-abad berbagai informasi yang di peroleh masyarakat Eropa tentang Islam dan Al Quran, bersumber dari kelompok-kelompok kristwn Fanatik. Dengan dasar tendensi dan dendam. Mereka menegtengahkan berbagai alasan yang di buat-buat, sifat dan tindak tanduk Kaum Muslimin yang baik di lupakan Samasakali, namun apabila mere membicarakan kejelekan kaum Muslimin, mereka justru menampilkan kekurangan itu sebesar gunung.
Pandangan George memang terkasan obyektif dalam menilai pandangan krinten fanatic terhadap Islam karena memang benar realiyanya. Tapi perlu di pertanyakaan posisi George di Kristen dan pandangan Dia sendiri terhadap Islam. apakah dia mendukung Islam? Ataukah Goerge hanya mendekrispkan sesuatu yang muncul dan yang realita terjadi.pada masyarakat (konflik antara Islam dan Kristen Fanatik?)? Posisi Goerge dalam Agma dimana? Atukah dia menganggap agama ini semua sama dan berada di tengah-tengah, dengan tujuan untuk mendapkan penilain yang objektif dan ilmiyah terhadap agama-agam yang Ada

Jika kita tidak kritis dalam menganlisa ucapan Gorge diatas maka kita akan cepat mengambil kesimpulan bahwa “Goerge obyektif memandang Islam” dan selanjutnya kita akan mengadopsi tanpa krtis seluruh pandanganya tentang Islam. Bahkan metohe dan fremawor yang di pakai sebagai intelektula mUslim mengambilnya untuk menilai agamnya sendiri, seperti, pengusung pluralisme Agama, libelarisme, yang tidak lagi memandang Agmanaya dari kaca mata agamanya sendiri yang bersumber dari ulama islam yang sholeh tapi melihat dari kacamata Orientalis Barat. Jika dia seorang intelektual Muslim, maka dia tidak memandang islam islam dari konsep Al Quran yang menjelaskan bahwa “sesungguhnya agama disisi Allah itu Agama Islam”
dan dalam ayat yang lain “siapa yang memluk agam selain Islam tidak akan diterima oleh Allah dan pdari kiaman Ia termasuk orang yang rugi”
serta Agam yang di Ridhoi oleh Allah hanyalah islam.
. karena baginya ini tidak obyektif karena melihat dari konsep aL quran yang sudah jelas membenarkan agama Islam itu sendiri, menurut mereka, seharusnya kita (ummat Islam) memahami islam ini dengan cara sudut pandang Orientalis, karena mereka mengakaji islam dengan intelektual Murni dan tidak memiliki kepentingan Apa-apa. Dan menurut mereka agar tidak adanya kleim kebenaran (trust Clame) Ummat Islam juga harus mengakui kebenaran Agama Yang lain.
Lihatlah beberapa intelektul indonesia hasil didikan orientalis yang menyabar faham rasionalisme Islam yang menyetarakan Wahyu dengan akalnya sebut saja seperti Harun Nasution, Nurkholis Madjid, Ulil Absar Abdallah, ahmad wahib. Sebagai satu contoh saja dalam tulisan Harus Nasution setelah menyelesaikan Studynya di Mc. Gill University, haru menuturkan : “….. disanalah baru ku lihat isalam bercorak rasional, bukan islam Irsional seperti di dapatkan di Indonesia, mekkah dan al Azhar. Aku bisa menegrtikalau orang berpendidikan barat mengenal Islam dengan baik melalui buku-buku karangan orientalis. Bisa ku mengerti mengapa orang tertarik Islam karena karangan Orientalis. Aku memang tidak tertari dengan karangan orang Islam sendiri”
Jika sikap mereka seperti diatas, maka perlu di pertanyaakan posisi mereka terhadap islam dimana?, serta epistemology apa yang di pakai untuk menilai sebuah kebenaran agama khusnya Islam. jika landasan berfiki yang di pakai untukmmenilai seutu agama khusnya Islam adalah Filsafat, maka justru meraka tidak obyektif dan tidak akan mendapakan obyektifitas dalam menilai islam. karena filsafat akan terus berubah ubah sesuai dengan perubahan pemikiran dan perkembangan zaman. Dan perlu di ketahui bahwa kajian orientalis terhadap liberialsasi islam bukan dengan cara menolak wahyu, tapi dengan cara mengubah pemahaman dan cara sudut pandang terhadap nash-nash wahyu di dalam Al Quran. Sehingga meskipun nashnya tetap tapi hasil pemahamn yang di perolehnya berbeda-beda. Sehingga dar sinilah kita perlunya mengambil sikap, pemahaman siapa yang kita ambil untuk memahami nash-nash itu (baik yang nash yang Qot`I atau yang Zhanny). Ulama mana yang kita dahulukan, adakah ulama orientalis ataukah Ulama islam yang sholeh. Pemahaman siapa yang kita dahulukan, pemahaman Bushkah atau Yusu Al Qoradhowi, akal snouck Hourgronjekah atau Imam Al Ghozali, pemikiran josept schachtkah atau Imam Bukhari dan Muslim. Tentu berbeda pandangan bush tentang Islam dengan pandangan Yusuf Al qordhowi, pemahamn Schacht tentang hadist dan pemahamn Imam Bukhari dan Muslim, Al Quran menurut S. M. Zwiemer dan menurut Imam Ibnu Katsir dan lain-laian. Disnilah perlunya keseruisan kita dalam mempertahankan identitas kita sebagai Islam Yang sebanarnya, bukan islam yang mudah di pengaruhi, yang mudah dikecohkan. islam yang tidak dapat di jual beli dengan harta dan kedudukan apalagi Cuma dengan subsidi asia Fondetion. Jika kita berani beridentitas Islam maka kita haru berani dan siap bertanggung jawab dengan segala resiko dan konsekwensi. Jangan samapai berindentitas islam tapi berpikiran orientalis dan berprilaku zionis serta menyebar paham sekularisme. Sebab itu dalam bukunya Fathyikan
, Maza ya`ni Intima` lil Islam (apa maksudnya saya berindentitas Islam) menjelaskan tentang hendanya berindentitas Islam secara Kaffah. Pertama, berinedtitas Islam secara Aqidah. Kedua, beridentitas Islam secara Ibadah. Ketiga, beridentitas Islam secara Moral. Kemepat, berindentitas Islam di dalam keluarga dan Rumah. Kelima, memperkuat posisi dan indentitas islam, sehingga tidak terbelenggu dangan godaan-godaan Dunia. Keenam, meyakini masa depan adalah Milik Islam, dan islam adalah peradaban Masa depan. hal ini akan dikaji dalam tjudul Khusus nanti insaAllah.
Perlu diketahui bahwa gaya khas orientalis dalam studi islam adalah dimulai dengan keraguan dan berakhir dengan keraguan pula. Dr. Musthofa Ad Damiry, Dosen dan ketua bidang Da`wah dan Staqofah Islamiyah fakultas usuluddin Universitas Al Azhar Zakazik mesir menyebutkan ada empat tujuan orientalis dalam Study Islam. pertama, untuk menyebarkan agama krinsten di negeri-negeri islam. kedua, untuk penjajahan terhadap negera-negara islam (penjajahan multi dimesi). Ketiga, melemahkan Aqidah Islam dalam diri Kaum Muslimin dengan metode kajian meraguan ajaran Islam. keempat, untuk memperoleh ilmu pengetahuan semata sebagai kepuasan intelektual.

Dan biasanya orientalis melakukan keempat tujuan diatas dengan mengatasnamakan ilmiyah dan objekatif atau metode ilmiyah dan objektif, yang mana definisi ilmiyah dan objektif itu sendiri di sesuaikan dengan kepentingan dan tujuan mereka. Padalahal kalau kita intelektual yang kritis (bukan membeo), maka kita mestinya curiga dengan kajian yanga di lakuakn oleh orientalis terhadapa Islam, bukan malah meragukan islam sebagai agama yang kita yakini, meragukan al quran sebagai pedoman, meragukan nabi Muhammad sebagai teladan, dan para ulama-ulama yang sholeh.jangansamapi terbalik meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Karena itu wajar jika dalam study islam ala metode orientalis ini, masalah keimanan dan keyakinanan bukan menjadi tujuan bahkan sejumlah orientalis dengan jelas-jelas secara sistimatis menyerang sendi-sendi ajaran Islam.
Sejak lama sebanarnya (tahun 1949) Dr. Mustafa As Siba`I mewanti-wanti cendikiawan Muslim agar tidak tertipu dengan metode irientalis dalam mengakji dan meneliti Islam, beliau berkata begini “sekiranya kaum Musliminin menggunakan criteria penelitian kaum orientalis (yang ahanya bertopeng pada rasio dan empirinsaniah serta tujuan missinya) dalam mengkaji al quran, assaunanah, dan kita-kitab standard lainya, apakah jadinya dengan keagungan ajaran isalam itu? Bagaimana mungkin mereka mempertahankan identitasnya yang abadi.” Selanjutnya beliu berkata “sekiranya kaum Muslimin mendatang menggunakan criteria penelitian ilmiyah menurut versi orientalis, pastilah akan sampai kepada kesimpulan yang lebih meragukan dan lebih menganggap rendah kepada klebudayaan dan para tokoh Islam di banding dengan hasil penelitian kaum orientalis sendiri. Bukankah dengan penelitian seperti itu akan tampak seolah-olah kebudayaan itu hanya sekedar jalianan bastraksi tokoh-tokoh cendikiawan, ulama dan politikus bleak tanpa budi dan kata hati..?”

Kekhawatiran Dr. Musthafa Assiba`I diatas benar-benar menjadi realita hari, dimana banyaknya ummat islam yang lebih mengagungkan karya orientalis darisapada ulama sholeh dari ummat islam sendiri, lebih trend belajar Islam di Barat dariapada di timur tengah, lebih bangga menyebarkan paham sekularisme, pluralisme, libelarisme daripada meneybarkan paham ahlusunnah wal jamaah, salafusholeh. Paham isme-isme itu diangapnya sebagai yang kajian ilmiyah dan objektif sedang paham salafushleh dainggapnya rigid, kaku, stgnan, kuno, ektrim, fundamentalis, dan istilah-istilah yang lainnya yang dipakai untuk memojokkan islam.
Sebagai inetelektual muslim mestinya memposisikan dirinya sebagai pemebela islam, bukan penghujat islam. maka menjadi sebuah istilah yang keliru “intelektual Muslim” kemudian mendukung gerakan orientalis, zionis, Kristen, yahudi. Mestinya isltialah yang paling tepat adalah “intelektual munafik Muslim”, yangmana patnernya menurut Al Quaran Adalah yahudi dan nasrani. Sebab itu Dr Asiba`I mnyadarkan Ummat Islam untuk tetap komitment dengan refrensi Islam yang Murni dari ulama-ulama yang sholeh. Beliau berkata “kiranya telah lewtlah masanya untuk menyandarkan ilmu dan tarikh padsa refrensi Barat, walaupun kita tidak menyadarinya, bukankah mereka sendiripun telah menyadapnya dari literature Islam?. tibalah saatnya untuk kaum muslimin untuk tegak berdiri menggunakann liteleur sendiri. Alangkangkah memalukan mempelajari Islam dari Tarihknya dengan bertopang pada faham orang Asing yang tidak memahami esensi dunia Islam”.
Islam adalah agama wahyu bukan rasional manusia, sebab itu landasan dasar yang harus di bangun dalam islam adalah wahyu dari Allah yang di turunkannya kepada Nabi Muhammad untuk sisampaikan kepada seluruh Mahkluk (rajmatan Lil Almin). Seaca ringkas sumber dasar untuk memahami serta mendefinisikan Islam dapat dilihat seperti yang di jelaskan oleh Abdulllah Ibnu Nafi` adda`jani,
pertama, Wahyu Ilahi. Yang merupakan epistemology memahami islam. karena semua sumber ilmu penegtahuan adalah dari Allah dan semua akan berakhir kepadaNya. Surat Al Alq 1-5. kedua, berdasarkan insting atau kepekaan panca indera (alhawas). Sebagai mediator untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu untuk mencapai keyakinan.. an nahl 78. ketiga. Dengan akal. Yang merukan fitrah manusia yang tajam di ciptakan Allah. Dengan akal pikiran ini manusia dapat membuktikan kebesaran Allah. Dan metode berfikir yang efektif menurut Islam adalah mengahsilkan sebuah kesimpualan, Rabbana ma khalaqta haza batilan subhana faqiana azabannar (ya tuhan sesungguhnya engkau tidak sia – sia menciptakan ini semua, maka jauhilah kami dari siksaan apai neraka).
Tiga landasa diatas adalah sumber utama dalam memahami islam menurut Syariat. Dimana pengetahuan yang berhubungan dengan “alam realitas” dicapai dengan kepekaan (hawas) dan akal, serta yang berhubungan dengan “alam Ghoib” hanya dapat di peroleh dan difahami berdasakan wahyu .
Adapun tiga sumber pengetahuan tentang Islam diatas dapat kita rujuk kepada Pertamam, dalam Al Quran, sebagai informasi dari semua wahyu. Baik yang berhubangan dengan alam realitas dan Alam Goib. Kedua, Rasulullah, sebagai pengemban Amanah Islam ini. Yang menjelasakan wahyu yang belum dipahami oleh Manusia Ketiga, Sahabat-sahabat Rasulullah, yang memang benar-benar memahami islam bersama Rasulullah Saw. Kemepat, Dari Para Ulama` karena merakalah pewaris Para Nabi.
Sumber rujukan kita terhadap memahami Islam adalah penting karena menentukan pemahaman serta sikap kita tehadap Islam itu sendiri. Jika kita memahami islam iru dari orientalis – Barat, maka pemahaman kitapun tidak jauh dari apa yang mereka pahami tentang Islam., jika dalam memahami ilam itu kita merujuk kepada ulama Su` (jahat) maka kitapun akan mewarisinya
Dan secara otomatis pemahaman itu berpengaruh kepada sikap dan realitas tindakan, baik yang bentuknya eksprsi Jawreh (anggota tubuh), pemikiran, dan lain laian
Ini adalah landasan awal kita dalam memahami Islam. dan langkah untuk memahami islam perlunya kita memahami definisi dar Islam itu sendiri.

Defisnisi Islam

Definisi Islam menurut Muhammad Al Ghozali mastilah diambil dari sumbernya yang asli, dan definisi Islam tidak akan wujud dalam bentuk sebuah kebenaran kecuali ianya diaplikasikan dalm bentuk Akhlak (moral) serta memiliki tujuan (alahdaf), mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran, dari bentuk imajinatif (khiayli) kepada Alam reality (Waqiiy)
.
Menurut Al Ghozali Kata Islam menghimpun dua kalimat yang tidak bisakan antara satu dengan yang lainnya, pertama, pengakuan LailahaIlah (tidak ada Tuhan kecuali Allah). Kedua, pengakuan Muhammadarasulullah (Muhammad Adalah Utusan Allah.
Menurut beliaua, Kesaksian dengan Rislah (sahadatain) bukanlah untuk kebanggaan seseorang atau peringatan bagi sekelompok, tapi Ia merupakan gabungan dari kebenaran-kebenaran yang tergambara dalam bentuk teori ilmu pengetahuan – kepada bentuk Aplikasi (amal perbuatan.). jika Al Quran adalah hidayah Allah kepada seluruh makhlukNya, Maka Muahammad Adalah aplikator yang menjadikan Al Quran itu hidup.
Atau dengan ungkapan lain, seperti yang dikatakan oleh Komar Oniah Kamaruzaman
bahwa “There are two component to the creed. The first is the proclamation that there is no other God, none, except Allah Almighty. The second is the proclamation that Muhammad is the messenger of God, a Rasullah. It is also actually proclamation and recognition of the elements of the transcendent and Immanent. Thus, Allah. The transcendent, divine, is made comprehensible to mankind by, the messenger, the human, the immanent. In short, the trncendent is made known to mankind by the immanent or the Divine by the Human. Hence, the two components of the creedcomplement each other and are thereforeinseparable.
Pemahaman tentang definisi dan makna Islam lebih di pertajam oleh Muhammad Kutub, eliau berkata begini :”Islam itu adalah kumpulan dari ibadah ibadah yang di jalnkan oleh manusia dalam bentuk aplikasi – manusia dapat berinterakasi dengan Tuhannya secar ikhlas – ketika beribadah, kemudian dapat berinteraksi sesama makhluk selain Allah didalam kehihidupan social.
Pertkatan Muhammah Qutb diatas memiliki makna yang sangat komprehansif yang meliputi aktivitas duniawi dan ukhrawi yang hanya dimhimpun dalam dua kata (whole in two), pertama, Transcendent (Lailaha Illallah). Kedua, Immanent ( Muahammad Rasulullah). Selanjutnya beliau berkata “Islam itu adalah penyerahan diri sepenuhnya untuk Allah, eksistensi dirinya, sepenuhnya menghadap Allah, menjadikan seluruh akal pikirannya, pesaanya, aktivitasnya, semuanya berlandaskan kepada undang-undang yang telah fi tetapkan oleh Allah Swt
Seorang laki-laki bertanya kepada rasulullah, “wahai Rasulullah apa itu Islam ? rasul menjawab “engaku mentuluskan hati kepada Allah, dan menjaga sesama Muslin dari lisan dan tangan mu.
Islam adalah cahaya Allah yang hanya di berikan kepada orang yang diberi petunjuk kepada jalanNya yang lurus, dan Ianya merupakan Agama Allah yang dibawa oleh para NAbi dan rasul, islam mengajak kepada kebaikan serta kebenaran yang hakaiki dan kebahagian yang abadi. Islam ditujukan kepada seluruh Manusia serta rahmat bagi seluruh Alam. Isalam menjelaskan tentang ruh, etika dan adab, tatanan dan undang-undang, dan seluruh aktivitas manusia yang senantiasa berhubungan antara satu dengan yang lainya. Islam menyeru kepada kesempurnaan manusia. Kesempurnaanya tidak dapat dilukiskan dengan pena serta ucapkan dengan kata.
Sebagai kesimpulan dari definisi Islam secara terminology dapat diringkas sesuai dengan Hadist Rasulullah, ketika malaikat Jibril bertanya kepda Nabi “Akhbirni anil Islam, Fa qolaRauslullah Salluhualaiwasalam, “Alislamu an tashadualla ilaha Illah Wa Anna Muhammadan Abduhu Warasuluhu, wa tuqima Asholata, Wa tu`ta Al AZzakata, wa tAshuma Ramadana, Wa tahajjal Baiti Inistatho`ta Ilahi sabiala.
Bahwa islam itu engkaubersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan mUhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan sholat, menuanaikan Zakat, berpuasa pada bulan ramathan dan beribadah haji jika mampu.
Orang barat – orientalis dengan wawasan ilmu penegtahuan mereka mengtahui definisi Islam diatas bahkan lebih dari definisi tentang Islam, tapi mereka tidak akan pernah mengakui bahwa Tuhan itu Allah dan Nabi Muhammad Itu Rasul yang perlu di teladani, kemudian mendirikan sholat, menuanaikan Zakat, Berpuasa, Melaksanakan Haji. Penegatahuan mereka tentang Islam hanya ingin mencari kepuasan intelektual yang tidak meliki orientasi.Kalangan Orientalis Barat tidak punya konsekwensi apa-apa dalam menjelasakan apapun tentang Islam karena mereka berada di luar Islam, maka tidak heran kalau mereka menghujat Islam, menghina Nabi, menuduh Al quran sebagai kitab kuno, menghujat kebanaran syariat Islam dan lain-laian sebagainya, dan itu mereka anggap sebagai kajian imiyah yang objekatif.
Berbeda dengan Ummat Islam yang memiliki sikap responsibelitas dan konsekwenasi terhadap sebuah definisi tentang Islam, Ummat Islam memiliki tanggung jawab setelah bersaksi tentang ketuhanan Allah, tanggunga jawab itu disebut dalam bukunya Muhammd qutb, mestilah beretika Lailaha Illaha Illah ( Akhlaqoyatu Lailaha Illalah).
Menurut hemat penulis, orang yang mau berbicara tentang Islam secara obyektif handaklah ia masuk kadalam islam serta menjalankan segala ketentuan-ketentuan Islam dan ajaran-ajaran yang ditetapkanNya, sehingga dalam mengungkapan tentang Islam bukan hanya berdasarkan teori Ilmu penegtahuan tapi berlandaskan cita rasa yang dialaminya didalam Islam itu sendiri.. dan inilah yang dilakukan oleh para Ulama Salafu Asholeh dahulu dan para ulama khalaf yan sholeh. Melihat Islam itu dengan pandangan hidup Islam, dan pandanga hidup Islam itu akumulasi yang tidak boleh dipisahkan dari teori dan aplikasi. Teori yang dikmaksudkan adalah yang berhubungan dengan pengetahuan tentang Islam yang melahirkan keimanan, dan adapun aplikasi yang di maksudkan adalah realisasi dari pengakuan keiamanan itu dalam bentuk tindakan. Sebab itulah dalam konsep dan pandangan Hidup Islam antara iman dan amal sholeh adalah untaian mata rantai yang tidak boleh terpisahkan. Iman tanpa amal sholeh adalah gersang seperti orang kafir yang mengaku bahwa bumi, langit dan dirinya adalah ciptaan Allah, Qs…………
. Tapi mereka tidak menyembah Allah sesuai dengan syariat yang telah diajarkan oleh para Nabi dan Rasul, amal sholeh tanpa Iman kepada Allah adalah fatamorgana seperti orang kafir yang di jelaskan di dalam Al Quran dan surat Annur…………. Bahwa amal perbuatan mereka laksan fatamorgana.

Tanggungjawab beridentitas Muslim
Belum bisa dikatakan seorang Muslim jika belum merasa dan memilki anggungjawab terhadap Islam. jika seorang mengaku Muslim kemudian mengelak dari tanggungjawab atau bahkan menghatam Islam itu sendiri, maka perlu dipertanyakan identitasnya sebagai seorang muslim. indentitas itu meliputi seluruh aspek kehidupannya. Secara terperinci fatyikan menjelaskan sebagai berikut :
muslim secara Aqidah. merupakan syarat awal identitas Muslim adalah aqidah yang benar sesuai dengan Al Quran dan sunnah Rsulullah. Memiliki pemahamn yang benar terhadap agama Allah.
memahami agama Allah secara benar dan baik terutama pemahamn terhadap Aqidah adalah landasan dasar menentukan aktivitas-aktivitas islam yang lainya. Jika aqidahnya terhadap Allah baik dan benar maka secara otomatis segala aktivitas islam yang lainya akan baik dan benar begitupu sebaliknya jika aqidah islamnya lemah maka akn mempebgaruhi aktivitas keislaman yang lainya. Maka tidak heran jika seorang Muslim yang peganganya terhadap aqiadah islam lemah menjual saham intelektualnya dengan harga yang sangat murah untuk menghancurkan islam, dengan membolak balikkan aqidah Islam sesuka hatinya, menghalalkan yang haram serta mengkaburkan kebnaran yang hakiki. Maka bisa di bayangkanlah jika seorang intelektual Muslim yang masih beridentitas muslim melakukan hal ini, apalgi orang yang sudah jelas tidak beridentitas Muslim yang tidak berpegang keapad aqidah Islam. apakah masih bisa dipercaya bahwa mereka (orientalis Kristen Barat) yang sudah jelas berbeda aqiadahnya dengan islam mengatakan tentang islam sesuai dengan landasan aqidah Islam? kalau memang iya secara teori ilmu pengetahuan lalu kenapa mereka tidak beraqidah islam secara praktis, menjadikan Islam sebagai aqidah yang meraka pegangi. Ini perlu pemikirian kritis untuk mengetahui apa yang terjadi dibalik ini semua, perlu mepertanyakan apa yang di inginkan oleh barat terhadap islam. Sebab dalam sejarah islam barat tidak pernah berpikiran posotif terhadap islam, apalagi mendukung. Dalam realitanya bisa kita lihat sendiri.



Dr. Mustafa Addumairy, al Isytisyroq wa Al Tabsyir, penerbit,Abusukriyah al hadistah, syarkiyah. Egypt, 2004, hl, 80-84.
Dr. Musthafa Ad Dumairi adalah dekan fakultas Dakwah dan stqofah Islamiyah, sekalgus dosen pada bidangnya, di Universitas Al Azhar Zagazig Egypt
Untuk lebih m engtahui secara mendalam hujatan-hujatan Orientalis barat terhadap alquaran sekaligus metodologi serta fremork ysang dipakai untuk mengkaji al quran, bias di baaca di dalam bukau, Adnin Armas M.A, metodologi Bible dalam Studi Al Quran, pt. Gema Insani, 1426 H. / 2005
Sarana untuk menjembati untuk sampai kepada matan Hadsit, yang biasa juga disebut Rijlul Hadist (yang meriwayatkan hadist)
Perkataan , perbuatan, ketetapan, dan sifat-sifat Rasul, baik yang di ungkapkan langsung oleh Rasullah sendiri lafaznya maupun yang di lafazkan oleh para sahabat sebagai justifikasi dari sifat-sifatnya.
Didalam Buku Prof. Dr. M. M. Azami,Schacht1s Origins Of Muhammadan Jurisprudence (menguji keaslian hadist-hadsit Hukum) membongkar semua pandangan serta tuduhah-tuduhan orientalis Barat terhadap rasulullah dan Hadist-hadistnya dan kepada para ulama-ulama hadasit. Dalam bukunya ini, beliau mengkritik metode serta fremawork yang di pakai oleh Schacht dalam kajian Hadsit, beliau menilai sangat tidak obyektif dan Ilmiyah. Hal yang sama juga di lakukan oleh Prof. Dr. Musthofa As Siba`I dalam Bukunya , Assunah Wa Makanatuha Fi Tasyri1 Al Islami, Beirut., 1978, kemudian dalam Buku Prof. Ali Musthafa Yaqub, Kritik Hadist, Pt Pustaka firdaus, 2004, juga mengritik metodologi kajian Hadist Goldziher dan Schaht yang dilihat memiliki kepentingan dan tujuan yang terselubung dibalik ilmiyah dan obyektifitas. .
Lihat Jurnal Al Insan, penerbit lembaga kajian dan pengembngan Al Insan, Depok,No. 2 vol.1, 2005hl. 9.
Dr. Mustafa Addumairy, al Isytisyroq wa Al Tabsyir, penerbit,Abusukriyah al hadistah, syarkiyah. Egypt, 2004, hl, 130 -132
Dr. Zaglul Al Najar, Al Islam Wal Gorb, penerbit, nahhdot Misr, kairo, Egypt, hl. 6.
Beliau adalah pakar pada bidan ilmu kosmogoni dan juga pada akadmi islam, sebagai ketua bidang kajian I`jazu ilmi Fil Quran (keagungan Ilmu-ilmu AlQuran)pada majlis A`la kementrian bidang keislaman republic Arab mesir.
Dr. Yusuf Al Qordhowi, Al Islam Wal Ilmaniyah, maktabah Wahbah Kairo Mesir, 1997, hl. 22
Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc.(Guru Besar Universitas Negeri Jakarta) Jurnal Pendidikan Penabur - No.05/ Th.IV/ Desember 2005
Albayan……
Sayid Qutb…………
.
Muhammad Al Ghozali, Kaifa Nafham Al Islam, penerbit Dar Al Da`wah 2002 hlm, 13-14
Ibid 14
Edaward W. Said, Orientalisme, penerbit, Pustaka bandung 2001, hlm.52
http:/www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/01misionaris.htm#provinsi%20BUSHER
Untuk mendapatkan kesempurnaan tulisan Harun Nasution ini, bisa dilihat didalam buku nya, Adian Husaini, Hegemoni Kristen – Barat, Gema Insani, Jakarta 2006, lht Halaman 75-80
Beliau menjelasakan setipa sub pembahasan secara terperinci, maka buku ini sangat perlu untuk dibaca sebagai evaluasi diri seorang yang beridebntitas islam. Fathiyakan, Maza Ya`ni intima`I lil Islam, penerbit Muassatu Risalah, beiurut Libanon 1997
Mustafa ibrahim Ad Damiri Op –cit
Dr. Musthafa Assiba`I Al hadist wa makantuaha fi At Tasyri` Kairo
Dr. Musthafa Assiba`I, Op-cit
Al Bayan,dar al Arkan Saudiyah, tahun 21, edisi 221, muharam 1427/februari 2006, lht. Hal. 8-9
Kamaruzaman adalah…….
Komar Oniah Kamaruzaman, Islam : A Contemporary comperative discourse, penerbit, Academy for Civilisational studies 2003, Kajang Malaysia, hlm, 27 – 28
Muhammad qutb…
Muhammad Qutb, Op – cit
Muhammad athyah Al Ibrasyi, Azhmatul Islam, maktabal Usrah 2003, Juz 1 lht, h. 13


No comments: