Wednesday, March 23, 2011

Islam Dan Pernyataan Sikap



Islam adalah cahaya yang bersinar di dalam hati bagi orang yang di kehendaki Allah Swt, yang memiliki hati nurani yang jernih, dengannya manusia mendapatkan jalan yang lurus, jalan orang-orang yang mendapat keridhoaan, bukan jalan orang-orang yang di murkaiNya.
Islam adalah Agama Allah Swt, agama yang menjadi tuntunan para Anbiya. Islam adalah agama yang benar, agama yang diturunkan Allah Swt kepada Rasul pilihan Muhammad Saw, untuk disampaikan kepada seluruh Ummat manusia di bumi, mengantarkan jagat raya kepada kebenaran sejati dan kebahagian abadi.
Islam adalah agama fitrah, yang diterima oleh akal sehat, agama yang senantiasa menyertai manusia sepanjang hayat, dia adalah ruh, dia adalah peradaban yang memiliki unsur rabbaniyah, unsur ketulusan, amanah, kebebasan, toleransi , keadilan, kesejahteran dan kejujuran yang tinggi.
Islam adalah ruh penggerak seluruh aktifitas yang menjelma menjadi etika dan moral, interaksi sosial, hukum, ekonomi, politik. Yang menyatukan spiritual dan material, fenomena dan noumena, fisik dan metafisik, teori dan praktek, yang terangkum dan dua frema besar yaitu penyatuan antara dunia dan akhirat. Ia menyeru kepada kesempurnaan jiwa dalam diri manusia.
Islam adalah agama yang memandang persmaan dalam tatanan sosial, ia membawa keadilan dan persamaan kedudukan, tidak membedakan antara satu dan yang lain karena suku, ras, warna kulit, tidak pula membedakan antara orang arab dan non-Arab kecuali dengan amal sholeh dan ketakwaan. Ikatan islam menyatu dalam lingkaran cinta, kasih sayang dan persaudaraan.
Islam adalah agama yang yang menyeru kepada keesaan Tuhan, tidak adak ada tuhan Melainkan Allah, Dialah tuhan yang berhak disembah, Tuhan yang mengatur tatanan kehidupan manusia dan jagat raya, tuhan yang melihatmu dimanapun kamu berada, tuhan yang menyertaimu dikala kamu suka dan duka, Ia bersamamu dalam sirkulari peredaran darahmu, dalam kedip matamu, dalam detak jantungmu, ia lebih dekat dari urat nadimu. Maka sembahlah Dia, anggap saja enkau melahat-Nya, jika engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah sesungguhnya Dia melihatmu.
Islam adalah ketundukan dan penyerahan secara totalitas kepada Allah Swt, tidak mempersekutukannya dengan yang lain, pasrah secara sempurna dengan segala perintahNya menjadikan seluruh akal pikiran, perasaan, aktivitas berlandaskan pada undang-undang yang telah ditetapkanNya.
Islam adalah pernyataan sikap bahwa “tidak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusanNya, mendirikan sholat, menuanaikan Zakat, berpuasa pada bulan ramadhan dan beribadah haji bagi orang yang mampu”
Islam seperti yang di gambarkan oleh Sayyid Ahmad ibnu Athoullah Aliskandary “bahwa Islam laksana anotomi Tubuh yang tidak saling bertentangan dan adapun penyerahan serta ketundukan (al istislam) adalah hati. Islam laksana Sebuah gambar dan istislam (penyerahan dan ketundukan kepada Allah) adalah esensi dari gambar tesebut. Islam sebagai sesuatu yang realitas dan penyerahan diri adalah esensi dari realitas tersebut.
Islam adalah agama yang sempurna, ia adalah agama yang diterima disisisi Allah Swt, agama yang tak tertandingi, tak terkalahkan dan terbantahkan, ia agama yang mampu mengahdapi tantangan realitas zaman, melintasi ruang dan waktu, relevan dengan perkembangan kehidupan manusia.
Islam adalah agama pilihan, agama yang yang menjadikan manusia berorentasi pada kehidupan masa depan, agama yang mengajarkan bahwa hari kemarin mestilah lebih baik dari hari ini, dan hari esok harus lebih baik dari ini.
Islam adalah agama yang menyeru ummatnya untuk berfikir, menganalisa serta merunung pencipataan dirinya, langit dan bumi serta segala isinya, yang menghasilkan ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah Swt.
Islam adalah agama yang tidak mendua, agama yang tidak ada pengakuan kebenaran selain darinya, agama yang tidak mengakui kebaran agama lain, agama yang tidak mengakui paham eteisme dan persamaan agama (plurlisme), tidak juga sekularisme, liberalisme maupun isme-isme yang lainnya, tapi ia adalah satu-satunya agama yang telah disempurnakan dan telah diridhoi oleh Allah Swt. “hari ini telah aku sempurnakan nikmatku dan telah aku ridho bahwa islam adalah agama untukmu”. Islam datang dengan segala kesempurnaanya, kesmepurnaan untuk ummat manusia dan rahmat bagi seluruh Alam.
Islam datang untuk mengkritisi ummat-ummat sebelumnya serta meluruskan pandangan tentang ketuhanan, kenabian, realitas alam dan kehidupan. Meluruskan penyelewengan terhadap agama, meninformasikan pemalsuan terhadap kitab suci yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul kepada mereka. islam tidak segan-segan mengatakan bahwa ummat sebelumnya telah menulis kitab dengan tangan mereka sendiri lalu berkata bahwa itu datangnya dari Tuan.
Yahudi telah menyeleweng dari ajaran Nabi Musa As serta melakukan perombakan terhadap kitab suci Zabur, begitupun ummat nasrani telah menghianati Nabi Isa As, juga melakukan pemalsuan terhadap Kitab Suci Injil.
Ummat yahudi mengaku bahwa Uzair adalah anak Allah dan ummat Kristen menganggap bahwa Nabi Isa dalah anak Tuhan, tapi Islam dengan Tegas memyaktakan sikap bahwa Allah adalah esa, Tempat meminta segala sesuatu, Ia tidak beranak dan tidak pula di peranakan dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.
Islam mengajak kepada ahlul kitab (yahudi dan Nasrani) untuk segera kembali kepada kalimat yang sama, kembali kepada ajaran Agama yang benar, kemabali kepada cara pandang yang benar terhadap Allah Swt, kepada Nabi Musa, Kepada Nabi Isa, dengan demikian mereka akan menyadari akan kebenaran yang hakiki serta mengakui kesalahn pandangan yang telah mereka lakukan kepada Allah Swt dan kepada Nabi dan rasul mereka.
Islam mengajak kepada Ahlul kitab (yahudi dan Nasrani) untuk kembali kepada kalimat yang satu, kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami (Islam) dan kamu (yahudi dan nasrani), kalimta itu adalah "kita tidak menyembah kecuali Allah Swt, dan tidak kita persekutuakan Dia dengan sesuatu papaun, dan kita tidak menjadikan Tuhan selain Allah Swt".

Wednesday, January 19, 2011

GAGASAN MEMBANGUN PERADABAN ISLAM (1)

Semenjak runtuhnya kerajaan ustmani abad ke 17 M. dan bangkitnya peradaban barat, Islam mengalami problematika internal dan eksternal yang sangat rumit. Problematika-problematika itu meliputi, akidah, ekonomi, politik pemikiran dan pendidikan.
Didalam kekalutan problematika internal yang dialami oleh masyarakat Islam, barat menggunakan kesempatan untuk segera melebarkan sayap hegemonitas tehadap dunia Islam dengan menggunakan seluruh peluang dan fasilitas yang ada demi mewujudkan orientasi penguasaan terhadap dunia umumnya dan Islam khususnya.
Tekanan dari luar dan konflik internal menjadikan umat Islam hingga hari ini belum mampu bangkit dan berjalan tegak seperti masa kejayaan Islam dahulu, sehingga perlunya gagasan baru untuk mewujudkan cita-cita Islam sebagai peradaban masa depan dunia. Dan tentu dalam mewujudkannya membutuhkan generasi yang memiliki visi-misi yang sama untuk menyatukan barisan Ummat.

Kondisi global Umat Islam : sebuah problema

Apabila melihat kondisi realitas umat Islam secara global saat ini, maka akan di sodorkan kepada dua opsi persepspsi yang bereda. Pertama, satu sisi umat Islam berada dalam kondisi memprihatinkan, kedua, di sisi lain Islam sedang menuju kebangkitan.
Kondisi memprihatinkan yang dimaksudkan penulis, adalah dimana hampir seluruh aspek kehidupan umat Islam saat ini dibawa cengkraman Barat, baik dari sisi ekonomi, politik, pemikiran, sistem, pembangunan struktur dan infrastruktur serta lain-lain-nya, seakan terjadi stagnan sirkulasi darah dalam tubuh umat Isalam.
Dalam realitas yang lain, Islam mulai menyadari untuk segera bangkit dan mengatur srategi agar bias keluar dari kondisi kritis ini. Usaha umat Islam ini dinilai oleh Barat sebagai kebangkitan kembali Islam yang menjadi musuh dan tantangan baru bagi peradaban barat; Sebab itu, sebelum gerakan kebangkitan Islam menjadi mekar, para orientalis konfrontasionalis seperti Bernard Lewis, Samuel P. Huntington, Martin Indyk, Amos Perlmutter, Daniel Pipes, Mortimer Zulkerman, Richard nixon, Walter Mcdougall, Jonathan Paris, Judith Miller, Kirkpatrick, Robert satlof, dan lain-lain menasehati amerika dan barat secara global untuk segara di hancurkan sejak dini.

Kesatuan cara pandang dan kerja kolektif : problem solving

Ketika penulis menghadiri sebuah acara seminar umum tangggal 23 februari 2008 di auditorium Masjid Jala` Ramses Kairo yang bertemakan Mubassyrât Intishôr al-islâm (kabar gembira tersebarnya Islam), Dr. Muhammad Imarah, intelektual Islam kontemporer asal Mesir sebagai presentator utamanya menjelaskan perkembangan Islam secara umum, di negara-negara Eropa khususnya.

Beliau menjelaskan secara terperinci tentang perkembangan Islam di beberapa negara Eropa dan Amerika, seperti Prancis, Jerman, Ingggris, Roma dan lain-lain. Daintara yang dijelaskannya adalah tentang negara-negara Eropa dan Amerika yang telah disebutkan diatas, dimana data statistika menunjukan jumlah penduduknya yang masuk Islam pertahun semakin meningkat. Dengan angka total beliau menyebutkan bahwa sebanyak-+ 20 juta jiwa pertahun yang masuk Islam dari jumlah penduduk dunia.

Disamping itu beliu juga menjelaskan bahwa agama Kristen di Barat hanya dijadikan simbol yang tidak bisa berbuat apa-apa. Hal itu terlihat banyaknya gereja-gereja yang di jual sehingga statusnya diganti menjadi Bar, Restoran, tempat shoping dan lain-lainya. Sebab itu Barat secara Umum dan Kristen secara khusus takut dengan dengan realitas perkembangan Islam. Bahkan salah satu yang ditakuti oleh Paulus selain berkembangnya faham liberalisme adalah meningkatnya jumlah transmigran muslim ke negara-negara Eropa.

Pada akhir presentasenya, Dr. Muhammad Imarah menyimpulkan dengan optimis menunjukan kemenangan ada di tangan Islam dan kebangkitan kembali peradaban Islam, bahkan dengan kalkulasi angka beliau menunjukan bahwa dalam jangka waktu maksimal 100 tahun peradaban Islam akan muncul kembali dan melumpuhkan peradaban Barat hari ini, dengan sebuah argumentasi sederhana, Islam adalah agama yang memiliki pondasi dan ciri khasnya sendiri, Ummatnya telah mengukir sejarah kegemilangan berabad-abad lamanya, ini bukan fiktif, tapi merupakan realita sejarah. Disamping itu kita adalah Umat yang satu.

Kemenangan Islam dan bangkitnya kembali peradaban Islam seperti yang dijelaskan oleh Dr.Muhammad Imarah diatas membutuhkan kerja kolektif dalam kesatuan fremawork berfikir dan cara pandang. Sebab itu penulis melihat dimana keterpurukan Ummat Islam hari ini karena perbedaan cara pandang dalam hal-hal yang fundamental, cara pandang yang bertentangan dengan pandangan hidup Islami (Islamic Wolrdview), sehingga menyebabkan perpecahan dan mengabaikan kerja kolektif (Amal Jamâ`i) antarsesama Muslim.

Disini penulis ingin menjelaskan kasatuan cara pandang umat Islam dalam hal-hal yang fundamental, sebagai langkah menyatukan barisan demi terwujudnya kembali peradaban Islam sebagai peradaban global. Dengan itu penulis akan membagi dua pembahasan utama sebagai problem solving dari persoalan-persolan umat yang telah disebutkan diatas. Pada GAGASAN MEMBANGUN PERADABAN ISLAM (2)

ISLAM DAN MUSLIM DALAM PANDANGAN BARAT

Tragedi 11 september 2001 merupakan skenarioo Barat untuk meyakinkan masyakat dunia bahwa islam yang di tuduhnya selama ini sebagai fundamentalis, ekstrimis, teroris, terbukti adanya. Islam yang anti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), liberaslisi, modernisasi, dan tuduhan-tuduhan lainnya menjdi senjata ampuh barat untuk mendeskreditkan islam. Hal itu di sampaikan langsung oleh Josh W. Bush pada 16 september 2001 dalam pidatonya menyakatan bahwa ia merupakan kelanjutan dari perang salib yang perlu di waspadai. Maka label “penjahat” dan “ teroris” adalah lebih pantas bagi meraka, kata josh Bush.

Konspirasi Barat bukanlah tidak beralasan. Beberapa alasan munculnya konspirasi itu diantaranya. Pertama, islam politik sebagai tantangan sekaligus pengahlang ruang gerak demokrasi Barat. Pijkan studi kasus revolusi Iran 1979 adalah sebuah gerakan islam politik yang menakutkan Barat. Kedua, peradaban masa depan yang di khawtirkan berada di tangan Islam. Sebagaimana hasil hipotesa tesis Samuuel P. Huntington dalam bukunya, The clahs of civilization Maka perlunya tindakan praktis untuk menghancurkan gerakan Islam secara dini. Ketiga, doktrinitas Islam yang dianggapnya bertentangan dengan logika Barat. Bahakn semenjak munculnya Islam, sudah dianggap musuh baru baru agama yahudi dan Kristen. Perang salib merupakan bukti nyata dari permusuhan itu.

Interpretasi orientalis konfrontasionalis tentang Islam: sang "musuh baru"

Sikap orientalis konfrontasionalis sangat keras terhadap Islam dan Islam politik. mereka lebih melihat bahwa Islam adalah musuh baru yang perlu di musnakan. Sikap toleransi dan demokrasi justru tidak terwujud pada pejabat elitis Barat dalam memberikan kebijakan poltik luar negerinya, khususnya kepada negara-negara Islam yang dianggapnya tidak bersahabat dan mengancam masa depana Amerika dan sekutunya. Pengambilan kebijakan para pejabat elitis Barat khusunya AS atas desakan wacana dan opini yang dibentuk oleh orientalis konfrontasionalis. Mereka senantiasa mendiskripsikan Islam dalam bentuk kejahatan kekerasan, anti demokrsi dan Barat.
Kebanyakan orientalis konfrontasionalis yang sering melabel semua aktivis Islam dengan sebutan "fundamentalis Islam" menganggap bahwa dalam prakteknya, Islam dan demokrasi itu berlawanan.

Para konfrontasionalis berpendapat "kaum fundamentalis Islam" seperti halnya totalirian komunis, sudah terlahir anti demokratis dan sangat anti Barat, dan dalam berbagai hal menjadi Barat sebagai sasaran. Sebagai contoh, Berlard Lewis dan Gilles Kepel menyimpulkan sikap fundamentalis Islam. Bahwa demokrasi liberal tidak selaras dengan fundamentalisme Islam maupun dengan Islam itu seniri.

Samuel P. Huntington dari Universitas Harvard menyatakan: tradisi-tradisi budaya yang mengakar amat dalam membatasi perkembangan demokrasi. Huntington menyinggung Bahwa Islam secara instrinsik tidak demokratis. dan lebih keras lagi Amos Perlmutter mengatakan, watak sejati Islam bukan hanya menolak demokrasi tapi sepenuhnya membenci dan memusushi seluruh budaya politik demokratis; Islam merupana sebuah gerakan revolusioner yang agresif, sama militan dan kejamnya dengan gerakan Bolshevik, Fasis dan Nazi di masa lalu;Islam tidak bisa di damaikan dengan Barat yang kristen dan sekular dan karenya Amerika serikat harus memastikan gerakan ini "dilumpuhkan sejak lahir.

Daniel Pipes terang-terngan menyatakan bahwa "Fundamentalis Islam menentang Barat lebih keras dibanding yang pernah dan sedang dilakukan komonisme. komonisme tidak sepaham dengan kebijakan-kebijakn kita, tapi tidak ada masalah dengan seluruh pandangan kita tentang dunia, termasuk cara kita berpakaian, kawin dan berdo`a. Dan lebih jauh lagi dengan menyerukan bukan hanya penghentian Islamis tapi juga penumpasan dan pembasmian. Ia menuangkannya dalam ungkapan lugas "Islam harus di perangi dan dikalahkan.”

Robert Satloff dari Washington Institute for near east policy, menganjurkan AS untuk mengambil langkah-langkah aktif guna bergabung dalam pertempuran yang dilakukan pemerintah-pemerintah timur tengah melawan kaum Islamis. AS harus selalu dalam posisi menyerang, walaupun hal ini menjadikan kita mendekati prilaku-prilaku kotor seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang penuh kebencian."bukankah, tambah Satloff, ini "perang kita juga.

Penyebaran wacana dan opini oleh kalangan orientalis konfrontasionalis Barat tentang kekejaman, kekerasan, kebodohan Islam, serta sebagai sang musuh baru membentuk cara berfikir masyarakat barat dan kebijakan politik pemerintah eksekutif AS. Sehingga tidak heran jika mendengar Islam dan Islam politik seolah hal yang memokan dan sangat menakutan. Di inggris dan di Negara-negara barat lain misalnya muncul berbagaimacam istilah seperti, Islamofobia, teroris Islam, ekstrimis Islam dan lain. Yangmnama seluruh definisi istilah yang di munculkan bermuara pada intimidasi terhadap islam dan gerakan Islam itu sendiri.

Istilah "fundamentalis Islam" misalnya mengarah kepada geraka-gerakan dan aktivis-aktivis Islam yang ingin menjalankan Syariat Islam yang benar dan murni, serta menjadikan Islam sebagai jalan hidup sekaligus dijadikan undang-undang dalam kehidupan ketatanegaraan. Adapun kelompok yang tuduhnya seperti, Hamas, Hizbullah, Al-Ikhwanul Muslimin, Jemaat Islami, dan Hizbut Tahrir Al-Islamy. Semua geraka-geraka ini dan para aktivis-aktivisnya dikleim sebagai musuh baru yang perlu diperangi dan di hancurkan sejak dini.

Islam dalam pandangan Orientalis Akomodasionis : “tantangan” baru"

Kubu orientalis akomodasinis berbeda cara pandangnya dengan orintalis konfrontasionalis yang menganggap Islam sebagai “musuh” baru. Akomodsionis lebih lebih memilih Islam hanya sebagai “tantangan” baru, bukan sebagi musuh yang harus di musnahkan dan di musuhi.

Jhon Esposito dan Leon T. Hadar dua pelopor akomodasionis berargumen bahwa, sudah terlalu sering para akademisi dan pemerintah, bahkan media menonjolkan tindakan-tindakan kelompok keras yang kecil-kecil, dan mengecilkan peran gerakan non politis maupun politis moderat. Pembentukan gambaran yang monolitik menurut Esposito, mengarah ke suatu peyederhanaan Agama yan melihat konflik-konflik politik di dunia
Islam dalam ungkapan religius – yaitu sebagai pertikaian Islam keristen.

Sekilas pandangan akomodasionis ini seolah mendukung Islam dalam kompetisi perpolitikan global. Sehingga terkesan bahwa sebagian dari sikap orientalis toleran terhadap Islam Politik dan aktivis Islam. maka tidak heran banyak dari kalangan intelektual dan politiku Muslim yang terbawa arus dengan sikap orientalis yang sok akrab dengan Islam. Padahal sikap Orientalis akomodasionis yang di rekomendasikan kepada pemerintah AS tujuannya demi untuk ke langgengan dan kepentingan masa depan AS, mereka tidak ingin Amerika dan Barat bermusushan denag Islam, karena hal itu akan menghancurkan masadepan AS dan Barat itu sendiri. Sebab itu hadapi Islam politik dengan bermain cantik, tidak perlu dengan kekerasn dan permusushan.

Dalam bukunya Fawaz, Akomodsionis mengnjurkan agar AS tidak menentang hukum Islam, atau aktivitas gerakan-gerakan Islam, “jika” pergrogram tersebut tidak mengancam kepentingan vital AS.

Langkah orientalis akomodasionis dalam merekomendsikan kebijakan kepada Islam politik terkesan lembut, pelan tapi pasti. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Fawaz : “akan keliru jika kita mebayangkan akomodasionis sebagai orang-orang idealis yang radikal. Keritik mereka terhadap Wacana dominan mengenai Islam Politik lebih di dasarkan pada perhitungan serta kekhawatiran yang pragmatis dan bukannya di sebabkan kekaguman romantis atau rasa mengahargai terhadap kaum Muslimin. Pelan tapi pasti, terkikisnya tatanan politik yang berlaku membuat para akomodasionis merekomendasikan pendekatan inklusif bukan eksklusif, yang bisa mengamankan kepentingan Ameriak Serikat untuk jangka panjang. Dalam konteks ini, saran-saran kebijakan akomodsiaonis berakar dari realitas politik dan bukannya sentimentalitas. Menurut Richard Bulliet dari universitas Columbia , akomodasionis justru tidak mengabaikan politik riil, mereka tergerak untuk menjaga kepentingan nasional Amerika dan menghindari pertikain dengan Muslim.

Dalam nada serupa Esposito dan Wright berpendapat bahwa, kepentingan kepentingan Barat akan jauh lebih mudah dijaga dengan mengembil kebijakan-kebijakan kerjasama dengan pemerintah Muslim Yang bersahabat.
Orientalis akomodasionis lebih bersikap hati-hati, kekhawatiran, dan rasa takut dengan melihat realitas Islam politik yang tidak bisa di bendung lagi dengan sikap kasar dan keras. Sebab itu sikap inklusif dan sok bersahabat dengan Negara-negara Islam yang se- ide dengan Ameriak harus dirangkul dan diayomi. Sehingga tidak terkesan bahwa AS bermusuhan secara langsung dengan aktivis gerakan-gerakan Islam. Biarkan gerakan gerakan Islam poltik itu berhadapan dengan pemerintah eksekutif negara Islam itu sendiri.

Kesimpulan


Rekomendasi dari kedua kubu diatas membuat pemerintah Ekskutif AS semakin mudah mengambil kebijakan tapi terkesan ambigu dalam menghadapi Islam Politik di Negara-negar Islam. Jika Negara-negara Islam yang mau mengikuti keinginan dan sesuai dengan kepentingan Amerika seperti Mesir, Indoneisia, Arab Saudi, Afganistan, Turki, Malaysia dan lainnya. Maka AS mengikuti rekomendasi orientalis akomodasionis. Akan tetapi, jika gerakan Islam politik di negara- Negara Islam yang tidak sesuai dengan keinginan dan kebijakan politik Amerika dan sekutunya, maka rekomendasi orintalis konfrontasionalis sebagai penentu kebijakan terhadap Islam politik. Seperti yang
terjadi pada Palestina, Irak, Afganistan, Iran, Syiria dan lain-lain.

Jadi apapun rekomendasi dari orientalis Barat, baik konfrontasionalis maupun akomodsionis, keduanya mengarah kepada kepentingan dan kestabilan masa depan peradaban Barat. Sekaligus permusushan terhadap islam sebagai Rival politik, ekonomi, ideology, dan peradaban masa depan.

Fawaz A. Gerges yang menilai bahwa Konfrontasionalis adalah “idealis Radikal” dan akomodasionis disebut sebagai “Idealis toleran” “lambat tapi pasti”. Tapi perlu disadari bahwa sebab munculnya rekomendasi dari kedua kubu tersebut karena kebimbangan, rasa takut, dan kekhawatiran terhadap perkembangan Islam dan gerakan Islam politik di negara yang bermayoritas Muslim.
Hal yang senada juga di ungkapkan oleh Dr. Yusuf Al qordhowi dalam bukunya A`dau Al Hally Al Islamy, bahwa anti-tesa Barat terhadap Gerakan Islam, Undanga-undang Islam, aktivis-aktivis Islam di dilumpuhkannya dengan berbagaimacam cara, baik secara konfrontatif maupun akomodatif.

Obyektivitas Dan Ilmiyah Dalam Pemikiran Islami (2)

Islam mengajarkan framework berfikir yang ilmiyah dalam memandang dan menilai sesuatu dengan epistemologi yang jelas. Natijah (nilai) berfikir dalam Islam menghasilkan kepuasan intelektual dan spiritual, sehingga tidak ada keraguan dalam mencapai sebuah kebenaran yang hakiki. Secara ringkas Dr. Abdul Karim Hamidi al-Jazairy Menjelaskan diskripsi fremawork berfikir ilmiyah menurut Islam sebagai Berikut : (lihat majalah Al Wa`yul Islamy, edisi 489, jumadil Ula 1427 H/Juni 2006)
1.Dalam mebangun landasan berfikir hendaklah didasari dengan Argumentasi (dalil) yang benar, sehingga mencapai kepuasan intelektul dan spiritual (ketenangan Hati).

Larangan Al quran untuk berfikir tanpa dalil terdapat didalam firman Allh Awt. “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui, karena pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (al-Isra` 36)

Sayyid Qutb berkata “ayat yang pendek ini memiliki nilai serta methode (kajian) yang sempurna, meliputi hati dan akal, mencakup framework ilmiyah seperti slogan manusia modern saat ini.
Ia bersandar kepada keteguhan hati serta pendekatan diri kepada Allah swt, yang merupakan keistimewaan dan nilai Plus dalam metode kajian yang digunakan Islam dibanding hanya bersandarkan kepada Akal gersang. Untuk mengkaji segala bentuk informasi, relaitas, atau penelitian perlu memiliki epistemologi pemikiran yang jelas dan valid.

Al-Qur`an adalah landasan dasar utama sebelum menentukan dan menetapkan sebuah kesimpulan (dari penelitian). Jika tetap komitment dengan metode ini (al-Qur`an sebagai landasan dasar dalam kerangka berfikir), maka tidak ada tempat bagi keraguan didalam Aqidah, tidak ada tempat bagi prasngaka dan syubhat dalam dunia hukum, undang-undang serta muaamalah dan tidak akan mengahsilkan kesimpulan subyektif (dangkal) dalam metode penelitian dan kajian ilmiyah. (lihat Tafsir Fi Zilâlil Qur`an, Surat Al-Isra` ayat 36)

2.Menghindari prejudice dan dugaan. Munculnya pemikiran yang berlandaskan pada dugaan disebabkan karena pengetahuannya yang terbatas terhadap kebenaran yang hakiki tentang sesuatu. Sedangkan arti dari dugaan itu sendiri adalah prangsangka yang dibangun dalam diri seseorang yang bersandarkan pada sebuah kesimpulan tanpa adanya dalil yang pasti dan jelas untuk menguatkan argumentasi pemikiran yang di bangun.
Landasan pemikiran dugaan ini telah di jelaskan didalam Qs.6:116, 43:20, yang menegaskan bahwa landasan pemikiran itu tidak bisa dibanguan hanya dengan mengikuti akal pikiran manusia yang terbatas. Selain itu, dugaan adalah bangunan pemikiran yang tidak berlandaskan kepada ilmu, melainkan hanya berpegang pada sangkaan.
Para ulama bersepakat, bahwa landasan dasar sebuah keyakinan dan keimanan dengan menduga-duga adalah mazmum (tercela), karena iman hanya dapat dibangun dengan keyakinan bukan dengan dugaan.

Prasangka adalah landasan yang lemah jika hal itu dikaitkan dengan keimanan terhadap pengetahuan yang ghoib. Allah Swt, menjelaskan didalam Qs.2:46. Ayat ini menjelaskan, prasangka bersandarkan kepada akal yang lemah yang tidak meliliki dalil yang shohih. Hal itu akan menyebakan adanya kesimpulan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyah, jika hal itu dikaitkan dengan penelitian. Kesimpulan berlandaskan pada dugaan dan prasangka tidak akan sampai pada kebenaran sejati, Lihat Qs.10:36.

3.Jauh dari keinginan hawa nafsu. Dalam pandangan dan pemikiran Islami, orientasi dari semua pemikiran dan penelitian mencapai pada suatu titik kebenaran (al-Haq), baik hal-hal yang berhubungan dengan Agama ataupun urusan duniawi. Begitu juga hal-hal yang berkaitan dengan cara pandang dan methodologi berfikir.
Seorang mujtahid hendaklah terlebih dahulu membangun orientasi berfikir dan berijtihad untuk mencapai sebuah kebenaran. Karena dengan niat tulus dan orientasi yang baik akan memperoleh hasil yang baik tentunya, dan ia akan memperoleh ganjaran dari Allah Swt, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw ,
من حكم فاجتهد فأصاب فله أجران ومن حكم فاجتهد فأخطأ فله أجر
Artinya "Barang siapa yang ingin menghukumi lalu ia berijtihad dan benar maka ia memperoleh dua ganjaran pahala dan barang siapa yang ingin menghukumi lalu ia berijtihad dan salah maka ia memperoleh satu ganjaran pahala." (HR. Bukhari.

4.Menyatukan antara Wahyu dan akal. Dalam pemikiran Islami akal tidak boleh lepas dari wahyu, karena wahyu adalah pentunjuk bagi akal menuju titik kesempurnaan berfikir yang hakiki, karena titik klimak hasil pemikiran dalam islam adalah ketundukan dan ketaatan kepada Allah sebagai pencipta dalam bentuk amal perbuatan. Akal dan pemikaran didalam Islam harus tetap relevan dengan wahyu yang diturunkan Allah Swt.

Kebenaran dalam pandangan Islam sangat mahal, menjaga kemurnian ilmu pengetahuan serta tujuan penelitian dalam kacamata Islam adalah sesuatu yang telah lama dianjurkan, ilmiyah dan obyektifitas adalah methodologi yang telah dibangun oleh Islam semenjak diturunkannya Al Qur`an. kemudian kerangka-kerangka obyektifitas dan ilmiyah itu dibentuk oleh para ulama salaf agar memudahkan generasi selanjutnya memahami ilmu-ilmu Islam secara benar.

Mengambil methode ilmiyah yang telah dibangun Islam dalam penelitian adalah–wajib–sesui dengan keyakinan kita, dan mengakui bahwa ia merupaka suatu keharusan yang tidak bisa ditolak. Hal itu karena serluruh obyek riseaarch manusia dibumi ini adalah ciptaan Allah Swt. maka interaksi dengan pencipta Alam raya sebagai obyek risearch adalah suatu keharusan bagi seorang peneliti dan pemikir. Sebab itu awal mula yang mesti dibangun oleh seorang peneliti menurut Dr.Muhammad Fuadi- Bast dalam bukunya silsilatul Fikri Fi Al Tanwiril Ilmi, maktabah Usrah 2006 kairo, hlm 55-57
pertama, keimanan kepada pencipta adalah asas untuk benar-benar memahami alam raya dan kehidupan yang merupakan hasil ciptaan Allah Swt. Dengan iman itu juga sebagai titik tolak benar tidaknya pemikiran manusia.
Kedua, kaitan antara ilmu, pemikiran ilmiyah dengan membangun kesadaran masyarakat untuk memahami adanya pertautan pengetahuan asasi dari satu sisi serta fenomena realitas hidup pada sisi lain, Sehingga keduanya terus saling berhubungan. Dimana antara ilmu dan realitas-hidup tidak saling bertentangan, antara teori dan praktek adalah satu kesatuan. Pepatah mengatakan, ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah. Pepatah ini menggambarkan, betapa tidak bergunanya orang yang memiliki ilmu penegtahuan tanpa mengamalkannya baik untuk dirinya sendiri, orang lain maupun tanggung jawab dirinya dengan Allah Swt.
Didalam konsep Islam, ilmu merupkan amanat yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, sebab itu tanggung jawab ilmiyah dan obyektivitas menurut pemikiran Islami hendaklah di penuhi. Didalam hadist rasulullah Saw menjelaskan, ada empat hal yang akan dipertnggungjawabkan dihadapan Allah swt, pertama, tentang umurnya kemana dihabiskan, kedua, tentang ilmu kenama ia manfaatkan, ketiga, tentang harta darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, keempat, tentang masa mudanya kemana ia pergunakan.

Jadi, pertanggungawaban ilmiyah dan obyektifitas dalam konsep pemikiran Islami, bukan sekedar pertanggung jawaban di dunia bersama manusia, akan tetapi pertanggunjawaban yang meliputi dirinya, manusia dan Allah Swt.

Wallahu` a`lam

Obyektifitas Dan Ilmiyah Dalam Pemikiran Islami (I)

Terdapat beberapa alasan pentingnya mengetahui kerangka memahami islam secara obyektif dan benar pada era globalisasi saat ini. Pertama, terbukanya masyarakat global untuk mempelajari agama-agama, dengan tujuan studi perbandingan, pengkaburan terhadap nilai-nilai agama, tujuan ekonomi, politik, bahkan juga tujuan permusushan, mencari kekurangan-kekuaranganya dengan berbagai metode untuk melumpuhkannya. Kedua, menjaga agar pemahaman tehadap Islam tetap murni dan terjaga dari pemikiran yang menyelewngkan pemahaman agama yang sebenaranya atas nama obyektivitas dan ilmiyah. Ketiga, ditengah pluralitas pemikran dan pemahaman masayarakat global tentang islam, maka perlunya mecari indentitas diri dan posisi dalam mengahdapi semua itu. Sebab jika seorang Muslim tidak memiliki sikap dan posisi terhadap Islam, maka saat itulah mulai sebuah pengkaburan (tasywih) pemahaman terhadap Islam karena adanya pengaruh-pengaruh lingkungan dan wacan pemikiran yang berkembang.
Obyektivitas dan Ilmiyah versi Barat dan Islam
Untuk memehami Islam sabagai sebuah Agama yang benar dan mengahasilkan nilai yang obyektif terhadapnya, adalah tidak terlepas dari kerangka berfikir yang berlandaskan pada epistemologi. Landasan pemikiran adalah sangat menentukan nilai obyektivitas terhadap sebuah keyakinan atau agama. Hal ini karena agama bukan saja mengajarkan hal-hal yang rasionil, pihsik, materil, tapi juga sebuah dogma, doktrinitas, metafisis, yang perlu diyakini dan dijalankan tanpa di rasionalkan. Karena jika semua kajian dan pemahaman terhadap Islam dirasionalkan dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah kajian dan pemahaman yang obyektif dan ilmiyah, maka justru metode, fremawork kajian itu tidak mengandung obyektifitas dan ilmiyah. Dengan demikian secara otomatis hasilnyapun menyimpan subyektifitas.
Jika seseorang ingin memahami agama Kristen, Budha, Hindu, Islam, maka perlunya melihat dan memahami landasan pemikiran dan pandangan hidup (Woldview) dari masing-masing agama. pandangan hidup Islam berbeda dengan pangan hidup Kristen, buda, hindu, Barat dan agama yang lainnya. Tentu akan menjadi subyektif bahkan rancuh apabila cara sudut pandang Kristen terhadap agamanya dipakai untuk memahami Islam, begitupun sebaliknya.
Barat–orientalis biasanya menilai dan memandang segala sesuatu termasuk Islam dengan berkdok akademik dan ilmiyah, hal itu juga sebagai syarat obyektivitas dalam cara sudut pandang. Padahal dalam jubah obyektivitas itu penuh dengan prasangka, sarat nilai dan segudang kepentingan, yang bersifat ekonomis maupun politis. Hal ini seperti yang di katakana oleh Dr. Musthafa Adumairi, Dosen Universitas Al-Azahar Zakazik, setidaknya ada empat motif mengapa barat-orientalis mengkaji dunia timur (islam), pertama, motif keagamaan, Barat yang pada satu sisi mewakli Kristen menganggap Islam sebagai agama yang sejak awal menentang doktrinitas-doktrinitas mereka. Kedua, motif imperialisme, setelah kekalahan perang salib, rasanya Barat tidak mampu lagi untuk menghadapi Islam dengan jajahan fisik, kemudian merubah strategi melalui penjajahan politik dan ekonomi, ketiga, motif ilmiyah, mengkaji Islam dengan berlabel akademik untuk tujuan yang sama, yaitu mencari titik kelemahan Islam untuk dimusuhinya. Diantara kajian islam yang digeluti kalangan oreintalis barat adalah,
1. Al-qu`ran. Diamana melakukan kritik terhadap Al-qur`an, dari sisi teks dan historisitasnya. Semua kajian bermuara pada keraguan terhadap otentisitas al-Qur`an sebagai wahyu Allah.
2. Kajian pada bidang Hadist. Dimana kritikan terhadap hadist dimulai dari sumbernya, yaitu Nabi Muhammad Saw, kemudian Matan, sanad Hadist. Kritikan yang dilakukan semuanya mengarah kepada pandangan yang tidak obyektif, mereka menganggap bahwa hadist-hadist itu semuanya palsu dan tidak otentik karena bukan berasal dari Nabi Muhammad, dan menuduh Ummat Islam mengatakan Bahwa semua hadist itu asli dan Shoheh. Padahal Islam tidah memandang demikian.
3. Kajian orientalis spealisasi di bidang sejarah Islam. Biasanya metode yang yang digunakan adalah cendrung menghidupkan kembali konflik yang terjadi pada masa lampau, seperti konflik antara pendukung Ali RA dan Muawiyah, serta sejarah tumbuhnya aliran-aliran dalam Islam seperti, syiah, Khawrij, Sunni, yang mengarah pada perbedaan pemikiran dan Idiologi. Dari sisi spiritual melalalui pendeketan Falsafah sufistik dan pendekatan intelektual melalu pemikiran Muktazilah.
Sebagai kesimpulan dari apapun yang mereka kaji tentang Islam melalalui multi sarana, seperti Ilmiyah, obyektivitas, akademik, semuanya berhilir pada apa yang telah di catatat al-Qur`an “mereka ingin memadam cahaya Ilahi”Allah Swt, menjelaskan hal ini di dalam QS.61:8. Aktivitas ini tidak akan pernah behenti hingga ummat Islam mengikuti jalan (millah) mereka, hal ini dijelaskan Allah Swt, didalam QS.2:120.
Dr. Zaglul Najjar, pemkir Islam Mesir kontemporer dalam bukunya, al-Islam Wal Ghorb (Islam dan Barat hal. 6) sampai pada sebuah kesimpulan berdasarkan pada analisa fenamenologis, Bahwa “ realitas hubungan antara Islam dan barat senantiasa bertentangan dan menegangkan dari 14 abad yang silam, semenjak diutusnya Nabi Muhammad, hingga Sekarang bahkan sampai Hari Kiamat”. Resistensi antara Islam dan Barat menurut Dr. Yusuf Al Qordhowi dalan bukunya al-Islam wal ilmaniyah (Islam dan sekularisme) adalah bukan sekedar benturan peradaban seperti yang dikatakan oleh Samuel P. Huntington dalam Bukunya Clash Of civilization, atau benturan kepentingan seperti analisa Fawazh A. Gerges dalam bukunya, America and political Islam, akan tetapi lebih kepada benturan yang mendasar yaitu benturan persepsi (al mafahim) serta perbedaan pandanga hidup. (Lihat Dr. Yusuf Al Qordhowi, Al Islam Wal Ilmaniyah, hlm.22)
Berdasarkan argumentasi diatas dapatlah kita ketahui, bahwa tidak mungkin (mustahil) kajian barat terhadap Islam akan menghasilkan obyektivitas dan ilmiyah, Sebab untuk mendapatkan definisi dan makna islam yang sebanarnya secara obeyektif dan ilmiyah hanya dengan menggunakan Pandanngan Hidup Islami. Kajian orientalis barat terahdap Islam tidak menghubungkan Islam yang spesifik dengan prinsip yang umum dan universal. Kajian mereka tentang hal-hal yang speasifik seperti tentang sejarah al-Qur`an, etika dalam Islam, politik dalam Islam dan lain-lain tidak di kaitkan dengan makna islam sebagai suatu agama dan pandangan hidup yang memiliki prinsip dan tradisinya sendiri. Prinsip bahwa ilmu mendorong kepada iman, misalnya, tidak tercermin dalam tulisan-tulisan mereka. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka miliki tidak mendorong para pembacanya untuk beriman kepada Allah Swt, tidak juga membuat mereka sendiri yakin dengan kebenaran Islam. lantas apa motivasi yang mendorong mereka untuk bersikap empati terhadap Islam dan ingin mempelajarinya?
Pendekatan untuk memahami Islam yang di lakukan para-orientalis adalah pendekatan filsafat (phyloshopy aproche), sehingga tidak mungkin akan menemukan obyektivitas dan ilmiyah, (yang mereka katakan ilmiyah dan obyektif). Pendekatan itu adalah, latar belakang histories, atau sejarah, pendekatan metodologis, pendekatan analitis, dan pendekatan eksistensial. pendekatan semuanya berlandaskan pada nalar filsafat. Dimana Nalar memungkinkan untuk membedakan yang baik dari yang buruk, tetapi tanpa perlu menghujat. Yang pada akhirnya menuju pada sebuah titik pemahaman “relativitas kebenaran” tidak adanya claim kebenaran (trust-clame). Selain itu methodologi yang digunkan orientalis dalam menganalisa dan mengakaji Islam beralandaskan pada pandangan hidup (worldview) yang tidak jelas dan semuanya bermula dengan keraguan (hesitancy), dimana segala sesuatu harus berdiri diatas keraguan, kemudian dengan pendekatan kritik (criticsm), dimana semuanya harus letak dalam diskursus kritis (critical discourses).
Orientalis-barat dalam mengkaji Islam biasanya selalu menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan membangun teori dan hipotesa terlebih dahulu lalu kemudian mencari dalil untuk memebenarkan dan menguatkan teori dan hipotesa yang dibangun. Hasilnya tentu akan menjadi subyektif dari perspektif Islam dan dianggap obyektif dari kacamata orientalis. Pada posisi seperti inilah seorang muslim harus memilih antara dua pandangan yang berbeda, melata obyektivitas ala orientalis ataukah memilih bahwa itu adalah subyektif menurut pemikiran Islami?
Islam memiliki pandangan hidupnya sendiri dalam memaknai dan mendefinisikan obyektivitas dan ilmiyah menurut cara pandang dan pemikiran Islami. Hal ini akan penulis jelaskan pada obyektifitas dan Ilmiah ( 2 )
Wallahu a`lam

Wednesday, March 17, 2010

SEJARAH BANGUNAN PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM (I)

Jika ditinjau secarakritis dan mendalam, sebenarnya pemikiran islam itu muncul semnjak Rasulullah Saw, diutus bhakan sebelum Nabi Muhammad diangkat oleh Allah Menjadi Nabi dan Rasul, sebagai justifikasi dari argmentasi diatas bisa dilacak misalanya dalam sejarah Islam yang menceritakan perjalanan Rasululah Swa, sejak dari kecil hingga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul , sebagai bukti dan cooperative study antara pemikiran Islam yang dibawah oleh Nabi dan pemikiran sebelumnya adalah yang berkaitan dengan pandangan tentang ketuhanan, dan kehidupan , bahkan dalam hal yang lebih terperinci pemikiran Islam memiliki pandangan tersendiri tentang perempuan .
Penulis ingin membagi dua periode besar penyebaran methodology pemikiran Islam yang dilakukan oleh rasulullah Saw, Pertama periode Makkah, vase ini adalah vase pembentukan Public opini masyarakat, sejarawan islam sering menyebutnya dengan vase sebelum kenabian (qoblal Bi`stah), kedua, vase pembentukan pemikiran dan ketiga, vase pembentukan cara pandang . Keduanyanya merupakan vase setelah keRasuan (ba`dal Bi`stah). Yang kedua adalah periode Madinah, periode yang merupakan vase realisasi pemikiran dan cara pandang islam. DR. Ali Muhammad Muhammad as-Sholabi mengatakatan bahwa vase ini adalah pembentukan konstutisi dalam bentuk Negara Islam . Kedua periode ini memliki keterkaitan erat dalam pemikiran dan cara pandang Islami.
A. Masa Raululullah (Periode Mekkah)
Para sejarawan Islam sering menulis, bahwa periode Mekkah adalah periode dakwah akidah, sebagai asas dari kayakinan. Pada periode ini juga rasulullah membentuk kader-kader yang tangguh untuk mengemban amanah dakwah dari Allah Swt yang siap berjuang dengan harta jiwa dan raga mereka. bagaimanakah method dakwah Rasulullah Saw, kepada kaumnya sehingga mengahsilkan kader-kader yang tangguh di mekkkah?. Penulis akan mebagi tiga vase methodology dakwah Rasulullah Saw dalam bentuk cerita dan analisa.
a) Vase pembentukan opini Masyarakat
Sejak awal diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul yang terakhir dengan membawa ajaran Islam yang memiliki konsep dan tradisinya sendiri. Memberikan pencerahan kepada manusia yang sedang dalam kegelapan dan kejahilan yang sangat. Ditengah kehidupan manusia yang buas dan liar, ditengah maraknya perjudian, perzinahan, minum-minuman keras, tumpahan darah dan maksiat yang lainnya.
Pemikiran manusia Arab yang berkembang pada saat itu yang kuat adalah raja sedang yang lemah menjadi mangsa, perempuan adalah pemuas hawa nafsu yang tidak memiliki derajat di mata masyarakat, kebebasan adalah sebebas-bebasnya yang tidak menganut aturan tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri terbentuk dari benda-benda yang tidak bernyawa.
Kehidupan sosial masyarakat jahiliyah Arab menjadi beberapa tingkatan, yaitu tingkatan para penguasa, tingkatan orang-orang kaya dan yang ketiga tingkatan orang-orang miskin. Bagi orang-orang yang berkuasa, mereka menggunakan kekuasaanya untuk memakan orang lemah, sementara yang kaya menikmati kekayaannya tanpa belas kasihan kepada orang-orang papa dan melarat, kehidupan gurun padang pasir dan gunung bebatuan di Mekkah membentuk karaktreristik masayarakat Mekkah menjadi ganas dan liar.
Sementara masyaakat china yang berada di kawasan luar Arab memposisikan perempuan kedalam lubang yang hina, dan memberikan tempat kerja yang hina kepadanya, kelahiran anak laki-laki merupakan karunia Tuhan yang sangat mulia, sementara anak perempuan adalah susutau yang tidak diharapkan kelahirannya. Masyarakat india menjadikan perempua sebagai budak yang bertugas di Kasur, masyarakat yunani yang memiliki peradaban, perempuan tidak memiliki peran apa-apa dalam membangun peradaban, perempuan hanya di simpan di dalam rumah-rumah mereka.
Beberapa hari sebelum kelahiran Nabi, Abrahah dan pasukannya datang ingin menghancurkan Ka`bah, sebagai simbol penentangan terhadap millah Ibrahim. Andaikan Allah Swt, tidak mengahcurkan pasukan-pasukann Abrahah itu maka tentu ajaran yang berlambang salib itu akan menyebar di tanah Mekkah dan kita tidak mengetahui bagaimana nasibnya Muhammad. Jika demikian halnya Sejak awal agama Kristen sebenarnya membawa missi ingin menguasai wilayah Arab dan sekitarnya.
Pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah, di tandai dengan cerahnya Mekkah, dan di tengah kehidupan manusia bergelimang dosa, lahirlah pahlwan tanpa jasa di tengah kegersangan spritual, kemerosotan akhlak, kerancuan pemikiran dan kehilangan orienatsi, ia bernama Muhammad Bin Abdillah seorang anak yatim beketurunan bangsawan ingin membawa obor pencerahan, menyirami hati yang sedang gersang, menghibur yang gelisah, membantu yang lemah, menghormati yang tua, meyayangi yang kecil, bersikap toleransi, ia benar-benar-benar membawa pemikiran baru, yang di sebut dengan pemikiran Islam.
Sejak kecil Beliu telah mengalami kepahitan hidup, menghadapi perjuangan hidup, melintas rintangan, berinteraksi dengan jujur dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ia di kenal dengan al-amin (orang yang jujur), ia memiliki sifat amanah yang tinggi, lembut, dan cerdas, sehingga membuat semua orang yang melihatnnya merasa sayang kepadanya. Kakeknya selalu tidak memperkenankan paman-paman Nabi untuk duduk di tempat duduknya. Tetapi kalau saja nabi duduk di tempat itu, maka sang kakek tidak pernah mengusisrnya atau memarahinya. Jika ada pamannya yang mengusirnya maka sang kakek itu sendiri yang membelanya dengan kata-kata : biarkanlah cucuku itu duduk disana, sebab dia memiliki sesuatu yang agung.
Menganjak remaja beliau di percaya menjdai pengembala kambing kepunyaan penduduk Mekkah, dengan mendapat upah, ia menjalani pekerjaan itu selama beberapa tahun dengan penuh amanah dan sabar, semenjak dii belaiu sudah hidup mandiri, tidak seperti anak-anak yang sebaya dengannya. Ia tidak terpengaruh dengan pergaulan teman-teman sepermainannya, beiau tidak pernah mengikuti orang-orang yang menyembah berhala, tidak pernah ikut makan sesajian yang diperuntukkan bagi berhala-berhala itu, tidak pernah meminum minuman khamar dan bermain judi. Belu tidak suka berkata keji dan mencaci maki. Kepribadian dan pemikirannya telah di bentuk oleh Allah Swt, sejak kecil. Sehingga beliau benar-benar memiliki konsep snediri dalam bekerja, berfikir dan berkarya bahkan berteman sekalipun. Belaiu tidak terkontaminasi dengan kondisi masyarakat sekitar dan pemikiran yang berkembang.
Sejak berusia baligh, Beliau dikenal sebagai anak yang bijaksana, memiliki daya fikir yang semakin tajam, hal ini terbukti dalam peristiwa hajr Aswad, tembok-tembok Ka`bah rusak karena bencana alam, untuk itu penduduk kota Mekah sepakat untuk mengadakan rehabilitasi. Semua pekerjaan perbaikan pada mulanya berjalan lancar, akan tetapi ketika memasang Hajr Aswad, timbullah perselisihan , siapa yang berhak melakukannya. Karena setiap kabilah merasa dia yang paling berhak, maka memuncaklah pertikaian anatar mereka, namun pada akhirnya capai pada kesepakatan bersama, bahwa yang berhaka mengambil dan meletakkan hajar Aswad ialah orang yag paling duluan memasuki Ka`bah esok harinya. Dan ternyata Nabi Muhammad Saw, adalah orangnya. Oleh karena beliu paling duluan memasuki Ka`bah dari pintu bani Syaibah, maka semua orang menyatakan setuju dan rela merima semua keputusan dan kebijsanaan Nabi Muhammad. Di turunkannya batu Hitam itu diatas selandanngnya yang sengaja di bentangnya, lalu kemudian meminta kepada seluruh kepala kabilah untuk memanggang sudut selendang dan terus mengangkatnya secara bersama-sama. Setelah sampai dimana hajar Awad mesti di letakkan, beliupun segera mengangkat dan memasangnya di temapt yang sudah di sediakan. Kebijaksanaan Nabi membuat semua pihak puas, sehingga pertumpahan darah tidak terjadi.
Kepribadian Nabi Muhammad ini tidak secara langsung membentuk pemikiran masyarkat Mekkah pada saat itu, walaupun Nabi tidak menyatakan pemikiran itu dalam bentuk lisan dan tulisan, Namun kepribadiannya telah menjadi pusat perhatian Masyarakat dan menajdi pemikiran yang berkembang dalam kehidupan social masyarakat Qurays Mekkah. Kepribadian belaiu menjadi tema diskusi hangat masyarakat Mekkah baik kalangan tua maupun muda.
Sejak berusia Muda beliau sudah di kenal oleh Msayarakat sebagai bisneeman yang jujur, dermawan, supel dan tepat janji, memiiki kepribadian yang menyenangkan dalam interaksi social. Ini pulalah yang menyebabkan Kahdijah, saudagar kaya raya itu member kepercayan penuh kepada Nabi Muhammad untuk ikut memperdagangkan barang-barang jualannya ke kota Basrah bersama-sama dengan Kafilah-kafilah dagang lainnya yang biasa berangkat sekali setahun. Kepoloson, kejujuran dan sifat amanahnya membuat khadijah jatuh cinta kepada Nabi dan menyatakan cintanya itu dengan meminangnya, menyatakan siap menjadi isteri Nabi. Nabi menyambut cinta Khadijah dengan menikahinya. Semanjak itulah Kahdijah menjadi Isteri Nabi sekaligus pendukung dakwah nabi, khadijah sebagai isteri yang setia senantiasa memberikan semangat kepada Nabi untuk tetap kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan, khadijah memang benar-benar sayang pada kekasihnya Muhammad Saw.ungkapan kasih sayang Kahdijah kepada Nabi ketika beliau menerima wahyu yang pertama, Nabi meminta isterinay untuk diselimuti, lalu Khadijah menyelimutinya dan berkata “jangan merasa takut, demi Allah kamu tidak akan dihina Allah selama-lamanya. Bukankah engakau selalu menjaga tali kasih sayang dengan sesama, selalu membela orang-orang yang lemah, membantu orang-orang yang kesusahan, engkau menghoramti tamu dan selalu membela kebenaran.
Di tengah hiruk pikuk masyarakat mekkah yang gemar dengan hidup berfoya-foya, menikmati kehidupan dunia yang fana, belomba-lomba mencari harta kekayaan dan kedudukan, Nabi Muhammad menyepi di gua hira, gua yang terletak di sebuah bukit di bilangan timur-laut kota itu, disanalah beliau selama satu blan merenungi kebesaran dan kekuasaan Allah swt, sehingga turun wahyu yang pertama.
Sejarah kepribadian Rasulullah Saw sejak kecil hingga sebelum menerima wahyu yang pertama selain membentuk cara berfikir masyarakat Makkah jahilyah pada saat itu terhadap kehidupan secara global, yang berkaitan interaksi social kemasyarakatan, kejujuran, keikhlasan, dapat dipercaya, kasih sayang, tolerasni saling menghormati dan lain-lain, dan yang paling penting adalah berkaitan dengan keyakinan, dimana beliau menunujukan sikap tidak ikut partisispasi dalam menyembah Tuhan yang di sembah oleh orang-orang Quraiys Mekkah pada saat itu. tingkha laku dan sikap Nabi Muhammad Saw, juga membentuk gaya berfikir seorang Muslim setelahnya, dimana sikap jujur, adil, kasing sayang, tolersansi dan saling menghoramti dan yang lainnya merupakan asas muamalah dalam interaksi social bermasyarakat walaupun dalam pluralitas masyarakat beda adat, kulit, satatus bahkan Agama. Namun demikian Nabi Saw juga tidak menjual keyakinannya hanya karena ingin bersikap tolerasnsi kepada masyarakatnya yang menyembah berhala untuk ikut serta menyembah tuhan yang mereka sembah. Dapat di fahami bahwa, toleransi yang berakitan dengan social kemasyarakatan adalah keharusan, akan tetapi dalam hal-hal yang berkaitam dengan Aqidah dan keyakinan adalah suatu hal yang dilarang.

Sunday, June 21, 2009

OBAMA`S SPEECH, MEMBAWA PAHAM SEKULARISME DAN PLURALISME AGAMA

Paham sekularisme dan pluralisme keinginan Barat terhadap dunia Islam, bukan saja dalam wacana dan pemikiran akan tetapi dalam bentuk kebijakan politik praktis. Mereka mengiginkan agar Islam sebagai agama tidak terlibat dalam dunia politik. Bagi Barat keterlibatan Islam dalam politik menghasikan fundamentalisme, terorisme, anti demokrasi barat dan anti Amerika.
Pidato Obama di Cairo tidak bisa hanya di kaji dari strategi politik luar negeri Amerika terhadap Negara-negara di dunia, Negara-negara Islam Khsusya, akan tetapi perlu juga di telaah dari sisi visi inteletual yang berbentuk wacana dan pemikiran untuk di sebarluaskan kepada ummat islam dunia. Waca itu adalah sekularisme dan pluralism agama.
Setelah Obama memtuskan bahwa pesan untuk Ummat Islam dunia akan diampaikan di Cairo, Obama menetapkan mimbar ceramanhya di Kubah Universitas Cairo, sebuah universitas yang diaggapnya modern. Koran mingguan Adab Mesir menulis kritikan sebagai ungkapan penyesalan, kenapa pesan obama tidak disampaikan dari mimbar Muhammad Abduh, manara universitas al-Azhar sebagai Pusat pemikiran dan Peradaban Islam.
Pilihan Obama Universitas Cairo sebagai mimbar sejarah bagi Ummat Islam sangat tepat sesuai dengan keinginan Amerika terhadap dunia Islam, missi sekularisme adalah missi Universitas Cairo. Koran al-Hayah memuat berita Jâmi`atul Qâhiroh… mahdul `ilmâniyah wal isthinâratul Masri ( Universitas cairo adalah tempat semai paham sekularisme dan pencerahan Mesir). Dalam Koran itu memuat beberapa alasan Uiversitas kairo dijadikan mimbar Khitob Obama, selian tepatnya yang strategis juga dilihat dari perannya di dunia politik, pemikiran bahkan juga estetika. Salah satu pembesar Negara (Mesir) ketika meresmikan Universiatas cairo pada tahun 1908 mengatakan “ilmu itu tidak beragama” sebagi bantahan dari ungkapan ahmad Zaki bak (salah satu pendiri Universitas) pada suatu presentasinya tentang keagungan Islam.
Pada 9 Maret 1932, Hamad Luthfi As-Sayyid, Retor Universitas Kairo mengusung kebebasan berfikir dan methodology sebagai protes atas pengasingan Thoha Husain, yang pada saat itu salah satu dosen adab. Pengasingan Thoha Husain di sebabkan karena bukunya yang kontrovesir as-Syi`rul Jahili (syi`ir jahiliya) yang terbit pada tahun 1926, yang isinya memuat keraguan terhadap Islam.
Rektor Universitas Kairo, Abul gahar berkata, : universitas Cairo masih tetap komitmen dengan missi dan undang-undangnya yang sekuler, hanya saja sekarang dari bentuk struktur kepengurusannya diatur oleh pemerintah, dekan-dekan fakultas dan pengurusnya di tentukan oleh pemerintah, sementara Mahasiswanya mayoritas Muslim”. Abul Ghar sangat bangga dengan menjadikan universitas Kairo sebagai mimbar presentase obama untuk Ummat Islam, ia melanjutkan, pilihan Obama atas Universitas Kairo disebabkan karena dua hal, pertama, universitas kairo adalah universitas sekulaer yang tidak bersimbol agama, kedua, universitas kairo adalah universitas Modern pertama di timur tengah. Abul Ghar menyebutka beberapa alumni universitas tersebut, diantaranya adalah yaser Arafat (ex perdana menteri palestina), Najib Mahfuz yang pernah meraih Nobel bidang adab tahun 1988, nasir hamid Abu Zaid yang tidak di sebutkan oleh beliu.
Missi Obama menguatkan missi sekuler Universitas Cairo, dengan menyebrkan wacana kepada Ummat Islam bahwa univesitas kairo adalah universitas modern.
Dari hal inilah dapat kita simpulkan bahwa, Islam yang dinginkan oleh Obama dalam pidatonya adalah islam ala universitas kairo yang sekuler, islam ala yasir Arafat yang tunduk epada keinginan Amerika dan kepentingan Israel, islam ala pemikiran nasr hamid Abu Zaid yang liberal yang diasingkan dar Mesir karena pemikirannya yang kontroversi dari beberapa bukunya, seperti buku Naqd Hithob ad-Adini (kritik teks agama) dan Mafhumunnas (pemahaman teks), begitu juga Najib Mahfud, soeorang Novelis liberal mesir.
Selain sekularisme, obama membawa misi pluralism agama, dalam pidatonya Obama menguatkan pemikirannya dengan menggabungkan ayat-ayat al-Qur`an, Injil,dan Thalmud bahkan pada awal pidatonya dengan mengucapkan salam Islami (assalmualaikum Wr. Wb) kemudian pada akhir pidatonya dengan bermohon kepada Tuhan (yesus, karena dia beragama Kristen), …..”Thank you, and may God`s peace be upon you”
Dalam kasus palestina khususnya Jerusalem (al-aqsho) sebagi Holy land, obama melihat dari perpektif tiga agama, Islam, Yahudi, Kristen dan tempat bagi anak-anak Abraham, ia melihat semuanya masing berhak untuk memiliki tanah suci ini, dalam ungkapannya “……when the Holy land of three great faiths is the place of peace that intend to be; When Jerusalem is a secure and lasting home for Jews and Cristia and Muslim, and Place for all of the children of Abraham to mingle peacefully together as in the story of Isra` when Moses, Jesus and Muhammad (peace be Upon him) joined in prayer.
wacana diatas, sebenarnya tanpa disadari oleh Ummat islam akan mengikis keyakinan dan pandangan seorag Muslim tehadap Jerusalem (al-Aqsho) sebagai tempat suci Ummat Islam dalam sejarah dan keyakinannya. Masjid al-Aqsho yang merupakan kiblat pertama ummat Islam sebalum Ka`bah adalah idiologi Ummat Islam yang tidak bisa di tukar dengan slogan toleransi dan perdamaian. Sebenarnya permasalahan yang kurang dipahami oleh Ummat Islam hari ini adalah selain keinginan Israel menguasai wilayah Palestina adalah ingin merebut Holy Land (al-Aqsho) dari tangan Ummat Islam dan ini pula yang di perjuangkan oleh HAMAS hingga hari ini. Dalam teologi Yahudi di perjanjian lama di sebutkan bahwa Palestina adalah The Promised Land (Tanah yang dijanjikan), bisakah Obama merubah Idiologi Yahudi?
Bagi Ummat Islam harus tetap memperkuat pandangan dan keyakinannya tentang Jerusalam (al-Aqsho) bahwa hal itu bukan hanya sekedar persolan legalitas berdirinya Negara Israel dan palestina tapi juga merupakan pandangan yang berdasarkan idiologi Islam. Yusuf al-Qoradhowi dalam bukunya al-Quds Qodhiyatu Kulli Muslim (al-Quds adalah persoalan seluruh ummat Islam), beliau dalam bukunya berkta “Yahudi tidak berhak merebut al-Quds dan Palestina”, belaiu menuangkan beberapa alasan sebagai berikut, diantaranya :
1. Dalam keyakinan dan pandangan setiap muslim, al-Quds adalah kiblat yang pertama dalam sejarah , dimana Rasulullah dan para sahabatnya telah menghadapkan wajahnya sejak diwajibkan sholat pada tahun ke 10 dari kerasulan Muhammad atau 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah, sehingga Allah Swt, menganjurkan untuk mengarahkan wajah ke Ka`bah sebagaimana dalam firmanNya.
Artinya “Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka Palingkanlah wajahmu ke arahnya”. (al-Baqrah 150)
Madinah merupakn bukti sejarah dalam bentuk struktur bangunan masjid yang disebut dengan masjid qiblatain.
2. Al-Quds merupakan bumi Isra` dan Mi`raj, dimana Allah Swt, menjdikankanya sebagai tempat destinasi akhir isra` Mi`raj dan langhkah awal menuju mi`rajnya Rasulullah Saw, sebagaimana Allah Swt berfirman didalam al-Quran,
Artinya “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.(al-Isra` 1)
3. Al-Quds merupakan tempat tinggi ketiga dalam pandangan Islam, setelah Mekkah dan Madinah. Mekkah dimuliakan Allah dengan masjidil Haram, Madinah dengan Masjid Nabawi dan palestina dengan Masjid al-Aqshonya.
Rasulullah Saw bersabda,
لا تشد الرحال الاّ الى ثلاثة مساجد : المسجد الحرام والمسجد الاقصى و مسجدى هذا
Artinya, “tidak berpergian jauh kecuali ke tiga masjid yaitu, Haram, Masjidil al-Aqsha dan Masjidku ini (masjid Nabawi)”.
Allah Swt telah menjelaskan dalam al-Quran tentang kemuliaan Masjidil al-Aqsha dengan berkah yang dilimpahkan, sebelum berdirinya Masjid Nabawi, bahkan beberapa tahun sebelum hijrah.
Penjelasan al-Quran dikuatkan dengan hadist Rasulullah yang menunjukan kemualian dan keutamaan masjidil al-Aqsha.. sebgaimana dalam sabdanya,

الصلاة فى المسجد الاقصى تعدل حمسمائة صلاة فى غيره من المساجد ما عدا المسجد الحرام والمسجد النبوىو, سئل, أى المساجد بنى فى الارض اول ؟ قال, المسجد الحرام, ثم أى ؟ قال المسجد الاّقصى
Artinya “sekali Sholat di Masjidil al-Aqsha sama nialainya dengan lima ratus kali sholat di Masjid-masjid yang lain, selain masjidil Haram dan Masjidi Nabawi, Rasulullah ditanya, masjid manakah yang pertama kali di bangun? Beliau menjawab, Masjidil haram, kemuadian ? Beliau manjawab, Masjidil al-Aqsha”.

4. Bumi Palestina adalah tonggak jihad dan kesatuan Ummat Islam.
Rasulullah Saw, bersabda
لا تزال طائفة من أمّتى على الحق ظاهرين لعدوّهم القاهرين الاّ ما اصابهم من لاواء حتّى يأتى أمر الله وهم على ذالك "قالوا : و اينهم يا رسولالله ؟ قال : بيت المقدس و أكناف بيت المقدس
Artinya “senantiasa ada sekelompok ummatku yang menang dalam kebenaran yang mengalahkan musuh-musuhnya, mereka hanya mendapatkan tekanan (intimidasi) sehingga hari kiamat, mereka bertanya : dimana mereka wahai Rasulullah? Rasul menjawab : di baitul Maqdis dan sekitarnya”.
Wallahu a`lam.

Sunday, April 26, 2009

Islam dan Muslim Dalam Pandangan Barat

Tragedi 11 september 2001 merupakan skenarioo Barat untuk meyakinkan masyakat dunia bahwa islam yang di tuduhnya selama ini sebagai fundamentalis, ekstrimis, teroris, terbukti adanya. Islam yang anti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), liberaslisi, modernisasi, dan tuduhan-tuduhan lainnya menjdi senjata ampuh barat untuk mendeskreditkan islam. Hal itu di sampaikan langsung oleh Josh W. Bush pada 16 september 2001 dalam pidatonya menyakatan bahwa ia merupakan kelanjutan dari perang salib yang perlu di waspadai. Maka label "penjahat" dan " teroris" adalah lebih pantas bagi meraka, kata josh Bush.

Konspirasi Barat bukanlah tidak beralasan. Beberapa alasan munculnya konspirasi itu diantaranya. Pertama, islam politik sebagai tantangan sekaligus pengahlang ruang gerak demokrasi Barat. Pijkan studi kasus revolusi Iran 1979 adalah sebuah gerakan islam politik yang menakutkan Barat. Kedua, peradaban masa depan yang di khawtirkan berada di tangan Islam. Sebagaimana hasil hipotesa tesis Samuuel P. Huntington dalam bukunya, The clahs of civilization Maka perlunya tindakan praktis untuk menghancurkan gerakan Islam secara dini. Ketiga, doktrinitas Islam yang dianggapnya bertentangan dengan logika Barat. Bahakn semenjak munculnya Islam, sudah dianggap musuh baru baru agama yahudi dan Kristen. Perang salib merupakan bukti nyata dari permusuhan itu.

Interpretasi orientalis konfrontasionalis tentang Islam: sang "musuh baru"

Sikap orientalis konfrontasionalis sangat keras terhadap Islam dan Islam politik. mereka lebih melihat bahwa Islam adalah musuh baru yang perlu di musnakan. Sikap toleransi dan demokrasi justru tidak terwujud pada pejabat elitis Barat dalam memberikan kebijakan poltik luar negerinya, khususnya kepada negara-negara Islam yang dianggapnya tidak bersahabat dan mengancam masa depana Amerika dan sekutunya. Pengambilan kebijakan para pejabat elitis Barat khusunya AS atas desakan wacana dan opini yang dibentuk oleh orientalis konfrontasionalis. Mereka senantiasa mendiskripsikan Islam dalam bentuk kejahatan kekerasan, anti demokrsi dan Barat.

Kebanyakan orientalis konfrontasionalis yang sering melabel semua aktivis Islam dengan sebutan "fundamentalis Islam" menganggap bahwa dalam prakteknya, Islam dan demokrasi itu berlawanan.

Para konfrontasionalis berpendapat "kaum fundamentalis Islam" seperti halnya totalirian komunis, sudah terlahir anti demokratis dan sangat anti Barat, dan dalam berbagai hal menjadi Barat sebagai sasaran. Sebagai contoh, Berlard Lewis dan Gilles Kepel menyimpulkan sikap fundamentalis Islam. Bahwa demokrasi liberal tidak selaras dengan fundamentalisme Islam maupun dengan Islam itu seniri.

Samuel P. Huntington dari Universitas Harvard menyatakan: tradisi-tradisi budaya yang mengakar amat dalam membatasi perkembangan demokrasi. Huntington menyinggung Bahwa Islam secara instrinsik tidak demokratis. dan lebih keras lagi Amos Perlmutter mengatakan, watak sejati Islam bukan hanya menolak demokrasi tapi sepenuhnya membenci dan memusushi seluruh budaya politik demokratis; Islam merupana sebuah gerakan revolusioner yang agresif, sama militan dan kejamnya dengan gerakan Bolshevik, Fasis dan Nazi di masa lalu;Islam tidak bisa di damaikan dengan Barat yang kristen dan sekular dan karenya Amerika serikat harus memastikan gerakan ini "dilumpuhkan sejak lahir.

Daniel Pipes terang-terngan menyatakan bahwa "Fundamentalis Islam menentang Barat lebih keras dibanding yang pernah dan sedang dilakukan komonisme. komonisme tidak sepaham dengan kebijakan-kebijakn kita, tapi tidak ada masalah dengan seluruh pandangan kita tentang dunia, termasuk cara kita berpakaian, kawin dan berdo`a. Dan lebih jauh lagi dengan menyerukan bukan hanya penghentian Islamis tapi juga penumpasan dan pembasmian. Ia menuangkannya dalam ungkapan lugas "Islam harus di perangi dan dikalahkan.”

Robert Satloff dari Washington Institute for near east policy, menganjurkan AS untuk mengambil langkah-langkah aktif guna bergabung dalam pertempuran yang dilakukan pemerintah-pemerintah timur tengah melawan kaum Islamis. AS harus selalu dalam posisi menyerang, walaupun hal ini menjadikan kita mendekati prilaku-prilaku kotor seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang penuh kebencian."bukankah, tambah Satloff, ini "perang kita juga.

Penyebaran wacana dan opini oleh kalangan orientalis konfrontasionalis Barat tentang kekejaman, kekerasan, kebodohan Islam, serta sebagai sang musuh baru membentuk cara berfikir masyarakat barat dan kebijakan politik pemerintah eksekutif AS. Sehingga tidak heran jika mendengar Islam dan Islam politik seolah hal yang memokan dan sangat menakutan. Di inggris dan di Negara-negara barat lain misalnya muncul berbagaimacam istilah seperti, Islamofobia, teroris Islam, ekstrimis Islam dan lain. Yangmnama seluruh definisi istilah yang di munculkan bermuara pada intimidasi terhadap islam dan gerakan Islam itu sendiri.

Istilah "fundamentalis Islam" misalnya mengarah kepada geraka-gerakan dan aktivis-aktivis Islam yang ingin menjalankan Syariat Islam yang benar dan murni, serta menjadikan Islam sebagai jalan hidup sekaligus dijadikan undang-undang dalam kehidupan ketatanegaraan. Adapun kelompok yang tuduhnya seperti, Hamas, Hizbullah, Al-Ikhwanul Muslimin, Jemaat Islami, dan Hizbut Tahrir Al-Islamy. Semua geraka-geraka ini dan para aktivis-aktivisnya dikleim sebagai musuh baru yang perlu diperangi dan di hancurkan sejak dini.

Islam dalam pandangan Orientalis Akomodasionis : “tantangan” baru"


Kubu orientalis akomodasinis berbeda cara pandangnya dengan orintalis konfrontasionalis yang menganggap Islam sebagai “musuh” baru. Akomodsionis lebih lebih memilih Islam hanya sebagai “tantangan” baru, bukan sebagi musuh yang harus di musnahkan dan di musuhi.

Jhon Esposito dan Leon T. Hadar dua pelopor akomodasionis berargumen bahwa, sudah terlalu sering para akademisi dan pemerintah, bahkan media menonjolkan tindakan-tindakan kelompok keras yang kecil-kecil, dan mengecilkan peran gerakan non politis maupun politis moderat. Pembentukan gambaran yang monolitik menurut Esposito, mengarah ke suatu peyederhanaan Agama yan melihat konflik-konflik politik di dunia Islam dalam ungkapan religius – yaitu sebagai pertikaian Islam keristen.

Sekilas pandangan akomodasionis ini seolah mendukung Islam dalam kompetisi perpolitikan global. Sehingga terkesan bahwa sebagian dari sikap orientalis toleran terhadap Islam Politik dan aktivis Islam. maka tidak heran banyak dari kalangan intelektual dan politiku Muslim yang terbawa arus dengan sikap orientalis yang sok akrab dengan Islam. Padahal sikap Orientalis akomodasionis yang di rekomendasikan kepada pemerintah AS tujuannya demi untuk ke langgengan dan kepentingan masa depan AS, mereka tidak ingin Amerika dan Barat bermusushan denag Islam, karena hal itu akan menghancurkan masadepan AS dan Barat itu sendiri. Sebab itu hadapi Islam politik dengan bermain cantik, tidak perlu dengan kekerasn dan permusushan.

Dalam bukunya Fawaz, Akomodsionis mengnjurkan agar AS tidak menentang hukum Islam, atau aktivitas gerakan-gerakan Islam, “jika” pergrogram tersebut tidak mengancam kepentingan vital AS.



Langkah orientalis akomodasionis dalam merekomendsikan kebijakan kepada Islam politik terkesan lembut, pelan tapi pasti. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Fawaz : “akan keliru jika kita mebayangkan akomodasionis sebagai orang-orang idealis yang radikal. Keritik mereka terhadap Wacana dominan mengenai Islam Politik lebih di dasarkan pada perhitungan serta kekhawatiran yang pragmatis dan bukannya di sebabkan kekaguman romantis atau rasa mengahargai terhadap kaum Muslimin. Pelan tapi pasti, terkikisnya tatanan politik yang berlaku membuat para akomodasionis merekomendasikan pendekatan inklusif bukan eksklusif, yang bisa mengamankan kepentingan Ameriak Serikat untuk jangka panjang. Dalam konteks ini, saran-saran kebijakan akomodsiaonis berakar dari realitas politik dan bukannya sentimentalitas. Menurut Richard Bulliet dari universitas Columbia , akomodasionis justru tidak mengabaikan politik riil, mereka tergerak untuk menjaga kepentingan nasional Amerika dan menghindari pertikain dengan Muslim.

Dalam nada serupa Esposito dan Wright berpendapat bahwa, kepentingan kepentingan Barat akan jauh lebih mudah dijaga dengan mengembil kebijakan-kebijakan kerjasama dengan pemerintah Muslim Yang bersahabat.

Orientalis akomodasionis lebih bersikap hati-hati, kekhawatiran, dan rasa takut dengan melihat realitas Islam politik yang tidak bisa di bendung lagi dengan sikap kasar dan keras. Sebab itu sikap inklusif dan sok bersahabat dengan Negara-negara Islam yang se- ide dengan Ameriak harus dirangkul dan diayomi. Sehingga tidak terkesan bahwa AS bermusuhan secara langsung dengan aktivis gerakan-gerakan Islam. Biarkan gerakan gerakan Islam poltik itu berhadapan dengan pemerintah eksekutif negara Islam itu sendiri.

Kesimpulan

Rekomendasi dari kedua kubu diatas membuat pemerintah Ekskutif AS semakin mudah mengambil kebijakan tapi terkesan ambigu dalam menghadapi Islam Politik di Negara-negar Islam. Jika Negara-negara Islam yang mau mengikuti keinginan dan sesuai dengan kepentingan Amerika seperti Mesir, Indoneisia, Arab Saudi, Afganistan, Turki, Malaysia dan lainnya. Maka AS mengikuti rekomendasi orientalis akomodasionis. Akan tetapi, jika gerakan Islam politik di negara- Negara Islam yang tidak sesuai dengan keinginan dan kebijakan politik Amerika dan sekutunya, maka rekomendasi orintalis konfrontasionalis sebagai penentu kebijakan terhadap Islam politik. Seperti yang terjadi pada Palestina, Irak, Afganistan, Iran, Syiria dan lain-lain.

Jadi apapun rekomendasi dari orientalis Barat, baik konfrontasionalis maupun akomodsionis, keduanya mengarah kepada kepentingan dan kestabilan masa depan peradaban Barat. Sekaligus permusushan terhadap islam sebagai Rival politik, ekonomi, ideology, dan peradaban masa depan.

Fawaz A. Gerges yang menilai bahwa Konfrontasionalis adalah “idealis Radikal” dan akomodasionis disebut sebagai “Idealis toleran” “lambat tapi pasti”. Tapi perlu disadari bahwa sebab munculnya rekomendasi dari kedua kubu tersebut karena kebimbangan, rasa takut, dan kekhawatiran terhadap perkembangan Islam dan gerakan Islam politik di negara yang bermayoritas Muslim.

Hal yang senada juga di ungkapkan oleh Dr. Yusuf Al qordhowi dalam bukunya A`dau Al Hally Al Islamy, bahwa anti-tesa Barat terhadap Gerakan Islam, Undanga-undang Islam, aktivis-aktivis Islam di dilumpuhkannya dengan berbagaimacam cara, baik secara konfrontatif maupun akomodatif.

MODERNISASI BARAT, RESPON KRISTEN DAN PANDANGAN ISLAM

Modernisasi Barat yang mencapai kegemilangannya pada abad 18 M setelah mengalami proses pencerahan (rinascence) dan setelah mengalami abad kebodohon (Dark ages) selama ribuan tahun (1000 thn) . kini barat mengalami perubahan yang sangat menakjubkan.
Gerakan modersnisasi yang diawali dengan filsafat mekanika ini membawa Barat kepada kehidupan baru yang lebih modern dan bertehknolgy yang dapat mempengaruhi dunia secar global, bukan saja dari sisi pembangungan material, struktur dan infastruktur tapi juga perubahan metode berfikir, gaya hidup ( life style), cara berpakaian, berpolitik, berekonomi hingga bergeser kepada cara sudut pandang serta pandangan hidup masyarakat yang merembes pada gesernya doktrinitas agama.
Perubahan-pereubahan itu pada satu sisi memberikan keuntungan kepada manusia, serta dapat menikmati fasilitas modern yang memudahkan segala urusan, namun pada sisi lain yang tidak boleh dipandang remeh adalah efek negatif dari modernisasi yang masuk pada wilayah teologi yang menjadi sebuah pemahaman modernisme yang merubah cara sudut pandang ketuhanan dan agama menurut cara sudut pandang modernis Barat.

Dari Modernisasi Ke Modernisme

Pergeseran akidah dan perubahan cara sudut pandang adalah hasil adapsi modernisasi Barat yang menggiurkan. Karena orientasi modernisasi Barat memiliki terminilogi khusus yaitu modernisasi paham Agama. Seperti yang di ungkapkan oleh Muhammad Hamid An Nashir, “yaitu sebuah sudut pandang religus yang disandari oleh keyakinan bahwa kemajuan ilmiyah dan budaya modern membawa konsekwensi reaktualisasi sebagai ajaran keagamaan tradisional mengikuti displin pemahaman filsafat ilmiyah yang tinggi.


Cara sudut pandang barat tentang agama disamakan dengan cara pandang mereka tentang filsafat yang senantiasa berubah ubah sesuai dengan perkembangan gaya berfikir dan zaman. Sehingga definisi modern yang di buat oleh barat sesuai dengan keinginanan dan orientasi mereka. Secara etimologi barat mendfinisikannya “using news style or ways of thinking” atau “ to change so that it use new equipment or new ideas”.


Definisdi diaatas memiliki makna yang komprehensif yang bukan saja berhubungan dengan perubahan gaya hidup (life style) atau perubahan alat-alat kuno menjadi modern, akan tetapi juga perubahan cara berfikir (new ways of thinking) dan perubahan cara sudut pandang (new ideas). Dari sinilah dapat kita ketahui bahwa stresing utama modrenisasi Barat adalah perubahan cara sudut pandang terhadap agama, karena historis munculnya modernisasi itu sendiri adalah penolakkan masyarakat barat terhadap Agama khususnya agama Kristen dan Yahudi, yang dianggapnya tidak menghormati akal dan ilmu pengetahuan.


Pergulatan antara gereja dengan gerakan reformasi modern melahirkan pengaruh yang sangat kuat pada agama nasrani itu sendiri sehingga menimbulkan pertarungan fisik antara pihak gereja dan pendukung modersisasi. Yang memenelan korban jiwa, berbagai penyelidikan , talah melakukan pembakaran brutal terutama sekali terhadap para tokoh pemikir dan para ulama , sekitar 18 tahun, dari tahun 1481M. pendukung gerakan modernism telah berhasil mebakar hidup-hidup 10. 220 orang dan mebantai 61.860 lainya, 970.23 lainya mereka siksa bahkan merekapun membakari kitab-kitab Taurah berbahsa ibrani.
Benturan pemikiran dan fisik yang terjadi di barat pada saat munculnya gerakan modernisasi, sebab utamanya karena kalangan modrenis menganggap bahwa gereja membekukan otoritas intelektual selain segala kebijakan gereja menjadi kebenaran absolute. Mereka menganggap bahwa agama mereka tidak memberi posisi kepada akal dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman lagi.
Tharnon Store, salah seorang penulis inggris berkata, “modernisasi sendiri adalah sebuah upaya yang di kerahkan oleh sekelompok pemikir dalam mengetengahkan realitas ajaran agama nasrani dalam modus ilmu pengetahuan modern, kita sekarang tidaklah mengenakan pakaian kakek-kakek, kita tidak berbicara dengan bahasa mereka, kita tidak percaya bahwa bumi adalah pusat orbit matahari seperti yang mereka percayai, kenapa dalam ajaran ketuhanan mengajarkan kita untuk menggunakan cara befikir yang sudah kolot, celakalah ajaran gereja yang menutup mata dan tidak mau melihat kenikmatan ilmu pengetahuan modern”.
Awal dari ketidak percayaan masayrakat Barat terhadap gereja salahsatunya adalah bermula pada problem teks bible, siapa yang menuslis bible itu (Who Wrote the bible?) sebenarnya, kemudian hubungan antara teks bible dan sains, walaupun interpretasi bible secara rigid dan litreral dengan dukungan teology sekalipun masih belum mampu menghadpi perkembangan sains yang terjadi diluar gereja. Salah satu contoh ketidakmampuan gereja mengahadapi sains adalah pernah menghukum ilmuwan seperti Galileo Galilei (1564-1642) karena mengekspos teori “ bahwa matahari adalah puasat tata suriya (heliocentric). Hal itu dilakukannya untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan gereja – yang memiliki doktrin bahwa gereja tidak pernah salah (Infallibility) karena merupakan wakil kristus dimuka Bumi.
Otoritas gereja yang tidak ilmiah ini membuat masyarakat Barat berontak, dan pada perkembambangannya gereja akur dibawa arus modernisasi barat yang mengakui elastisisitas agama dalam mengahadapi perkembangan zaman, lalu melakukan keritik terhadap ajaran Taurat dan injil dalam bingkai penelitian yang mereka sebut kritik historis.
Pendeta luis dalam bukunya, Injil Markus, Matius dan Lukas yang muncul tahun 1907 M. menyatakan, “sesungguhnnya injil dengan wujudnya sekarang mengandung banyak takhyul dan dongeng, oleh sebab itu tidak mungkin berasal dari kalimat Tuhan yang suci, termasuk ajarannya yang bersifat goib dan supra natural”.
Mengingat begitu hebatnya kontroversi teologis kiristen dan trauma barat terhadap hegemoni gereja ketika memgang eksklusivisme teologis menjadikan masyarakat barat trauma dengan agama, bukan saja dengan agama Kristen dan Yahudi yang mereka anggap irasional tapi juga kepada agama-agama yang lain termasuk Islam yang dituduhya penghalang perkembangan modernisasi.
Kondosi traumatis di dunia Barat mendesak mereka utnuk melakukan perubahan terhadap agama, seprti menempatkan Agama Kristen sebagai agama personal dan membatasi wilayah kekuasaanya, dan melakukan proses libralisasi serta merubah (dekontrusi) besar-besaran terhadapa doktrin Kristen.
Dalam bidang politik, mereka melahirkan kosep sekularisme, dalam bidang teology, mereka mengembangkan konsep teologi terbuka (inklusif) dan persamaan (pluralis), yang menolak kleim Kristen sebagai satu-satunya Agama yang benar. Dalam bidang organisasi keagamaan, mereka menghantam 'formal Religion' dan mengembangkan konsep agama sebagai aktivitas, dalam bidang kajian kitab suci, mereka mengembang metode interpretasi 'hermeneutika' yang mendekontruksi konsep bible sebagai "the words of God" dan mengembangkan metode historical criticism (kritik Historis) terhadapa Bible.
Proses modernisasi Barat adalah usaha memodernisasikan agama, mendesak agama agar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Manusia. jadi Agama yang mesti mengikuti perubahan dan perkembangan Zaman, jika teks Agama (kitab suci) tidak sesuai dengan konteks Zaman, maka teks itu tidak perlu dipakai, bahkan melakuka dekonstruksi teks agar sesuai dengan konteks Zaman.
Bagi modernis Barat, yang tidak melakukan perubahan terhadap Agama adalah Fundamentalis, yang benci dengan modrenisasi dan perkembangan. Maka dibuatlah definisi fudamentalis sebagai 'masyarakat beragama yang benci terhadap modern'. Seperti yang didefinisikan oleh Karen Amstrong yang memandang fundamentalisme sebagai bentuk spiritualitas yang disajikan untuk melawan (embattled), yang muncul sebagai respon atas krisis yang dirasakan. Disini nampak apa yang dimaksud Karen adalah bentuk kekhawatiran bahwa modernitas akan mengikis bahkan memberangus keyakinan (relegius) dan moralitas, Adapun Bruce Lawrence dalam bukunya Defenders of God: The Fundamentalist Revolt Against the Modern Age lebih memilih untuk mendefinisikan fundamentalisme sebagai usaha penegasan otoritas keagamaan yang holistik dan absolut, yang tidak memberikan tempat bagi kritisme serta reduksi; usaha ini diekspresikan lewat tuntutan kolektif agar prinsip-prinsip ketaatan dan etika spesifik yang diambil dari teks suci secara umum dikenal dan secara legal dijalankan. Sedangkan Jeffrey K. Hadden dan Anson Shupe dalam buku mereka Secularization and Fundamentalism Reconsidered cenderung melihat fenomena fundamentalisme sebagai sebuah pernyataan terhadap otoritas yang diklaim ulang berlandaskan tradisi suci untuk digunakan sebagai (obat) penangkal bagi masyarakat yang telah menyimpang dari tambatan budayanya..

Respon Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

Jika modernisasi Barat yang melahirkan plurislisme agama, sekularisme, dekonstruksi teks kitab suci karena traumatis masyarakat barat terhadap doktrin gereja, maka sungguh aneh jika kemudian ummat Islam ikut mengusung paham modernisme dan mencari-cari akarnya dari teologi islam.


Perkembangan sains di dunia Islam tidak seperti apa yang dialami oleh Barat, dan tidak ada dalam catatan sejarah bahwa Islam menentang sains dan ilmu pengetahuan. Islam adalah pioner sains modern. Seorang penulis yang bernama Seeger Bedhoneka berkata: `Fitrah Ilmiyah yang benar-benar Ilmiyah ini yang membuat anak-anak Gurun sahara bangkit, suatu kebangkitan ilmu yang nyata dan paling menakjubkan serta mengagumkan dalam sejarah kemajuan akal Manusia. Kepemimpinana anak-anak gurun sahara yang memblokakade bangsa-bangsa berperadaban kuno, mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki peadaban lain dalam bidangnya dan bangsa-bangsa bodoh kala itu berdiri terheran-heran melihat mu`jizat akal yang luar biasa ini bahkan mereka bingung memikirkan sebab dan bentuknya’. Lebih lanjut ia berkata : `Bangsa Eropa benar-benar berhutamg budi pada bangsa Arab dan peradaban mereka. Hutang yang melingkari leher bangsa eropa dan benua lainnya sangat besar’.


Seorang peneliti dari Jerman Ny. Dr. Zigrid Hunakeh dalam bukunya “Kebudayaan Islam di Eropa” menyiinggung berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan industri kaum Muslimin. Beliau dalam Mukaddimah bukunya menulis: `Meski dunia islam timbul di Eropa sepanjang 1400 tahun, namun berbagai informasi mengenai peradaban Islam sangat sedikit mereka peroleh bila dibandingkan dengan peradaban lainnya, meski demikian, kebanyakan informasi menganai Islam adalah salah dan ini merupakan dosa orang barat dalam penulisan sejarah, yang senantiasa mencegah menjelaskan hakikat yang benar. Para penulis sejarah kristen sengaja melakukan penyelewengan terhadap kaum Muslimin, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang besar berupa peradaban Islam nampak menjadi remeh dan tidak ada artinya sama skali. Bahkan para penulis sejarah yang baru, juga melakukan tehnik meremehkan semacam ini, sekecil apapun konspirasi yang nampak mereka tutup mulut dan membiarkan hal itu terus berlanjut’.


Jhon M. Hobson dalam bukunya, The Eastern Origin Of Western Civilization menjelaskan, bahwa pemikiran Timur sangat mempengaruhi perkembangan dan pemikiran di dunia Eropa pada masa renascence, seperti pemikiran orang-orang China,pemikiran orang-orang Islam pada masa Dinasti Ummayyah, Abbasiyah dan kerajaan Fthimiyah di Afrika utara khususnya di bidang perdagangan.
Pengakuan Ilmuwan Barat diatas membuktikan bahwa islam sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan karena memang landasan dasar wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammd sebagai pembawa risalah berperdaban adalah Ilmu pengethuan (lihat Surat al Alaq 1-5). Jadi tidak benar jika Barat menuduh Islam sebagai agama anti dengan perkembangan ilmu pengetahuan kerena tidak berdasarkan argumentasi historis yang jujur, jadi yang benar adalah Barat ingin merusak doktrinitas agama-agama khususnya Islam dengan slogan modrnisasi.

Wallahu A`lam

Bagaimana Seorang Muslim Memandang Al-Qur'an?

Al-Qur`an yang sejak lama dihujat oleh orang yang tidak percaya dengan ajaran Rasulullah, bahkan semenjak al-Qur`an dijadikan mu`jizat terakhir yang diberikan kepada Nabi Muhammad, adalah orang-orang musyrik Quraisy dan kalang munafik yang menentang otentisitas al-Qur`an semasa Rasulullah Saw.

Pada dinasti Umayyah, hujan hujatan terhadap al-Qur`an semakin tajam, adalah Leo III (1717-1741 M) Salah seorang dari kalangan Kristen, yang mengatakan bahwa al-Qur`an adalah karangan Nabi Muhammad, Johannes dari Damaskus ( ± 652-750) menghujat al-Qur`an dengan mengatakan bahwa semuanya adalah cerita bodoh, Abdul Masih al-Kindi ( ± 873 ) salah satu penganut Kristen Nestoria. Al-Kindi menyimpulkan orang yang percaya Al-Qur'an berasal dari Tuhan adalah orang yang sangat tolol, Ricoldo da Monte Croce (Ricoldus de Monte Crucis), seorang Biarawan Dominikus. Ia memandang, bahwa yang mengarang AI¬-Qur'an sekaligus membuat Islam adalah setan, Martin Luther (1483-1546) Me¬nurut Luther, Mohammed, Al-Qur'an dan orang-orang Turki semuanya adalah produksi setan.


Pada abad modern dan post modern lahir penghujat al-Qur`an dari pemikir Islam sendiri yang berasaskan pada pandangan orientalis barat. Pada abad ini al-Qur`an tidak lagi dianggap sebagai sesuatu hal yang sakral dan suci, melainkan sama seperti manuskrip-manuskrip biasa yang tidak luput dari kesalahan.


Pandangan ini berawal ketika mereka melakukan keritik terhadap teks-teks bible yang mengalami problem di dunia kristen barat. kemudian masuk ke wilayah teks Al Quar`an yang dianggap sama dengan teks bible. Mereka memandang teks Al Quran sama dengan teks bible sehingga harus di rekostruksi dengan merubah interpretasinya sesuai dengan kebutuhan manusia dan kondisi Zaman. Tokoh Orientalis yang mempelopori pemikiran ini adalah Arthur Jeffery orientalis post-Modern. Ia mengatakan: "Kita membutuhkan tafsir kritis yang mencontoh karya yang telah dilakukan oleh orientalis modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk tafsir al-Quran. Pemikiran ini kemudin diusung oleh intelektual Muslim Abid Al Jabiri dalam bukunya “kritik Nalar Arab (Critique de la Raison Arabe) memandang bahwa teks apaun harus mengikuti zaman dan kebutuhan Manusia.


Nasr Hamid Abu Zaid melata orientalis modern Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (November 21, 1768 – February 12, 1834) yang menganggap bahwa al-Qur`an sama dengan kitab-kiatb lainnya. Konsep Nasr Hamid ini membawa dampak pada metode penafsiran teks al-Quran, dimana ia mengancam keras metode tafsir Ahlu Sunnah yang menempatkan hadith Nabi saw Sebagai penafsir utama ayat-ayat al-Quran. Jika Bible memiliki pengarangnya masing-masing, maka Nasr Hamid mencoba menempatkan Nabi Muhammad saw dalam posisi “seperti” pengarang al-Quran. Bagi Nasr Al-Qur`an hanya berupa teks sama seperti teks-teks kitab-kitab lain yang perlu di interpretasi dalam bentuk sosial kehidupan masyrakat.
Ali Harb dari libanon yang menganggap, bahwa tidak ada bedanya antara teks Alquran atau hadits dengan teks-teks lain, karena sama-sama berbentuk bahasa yang disusun dalam realitas yang dialogis/dialektis dengan realitas dan sama-sama berpotensi mengandung penilaian sehingga karenanya juga berpotensi menghijab nalar (kebenaran) yang tidak diungkap dalam teks tersebut. Padahal, nilai (kebenaran) yang tidak dimuat teks tersebut dikandung oleh teks lain. Sedang al-Arkoun memandang bahwa al-Qur`an perlu tafsir kritis.


Dengan fenomena diatas, penulis ingin mengajak seluruh ummat Islam untuk segera kembali kepada cara pandang Islam dan Muslim terhadap al-Qur`an sekaligus bagaimana seharusnya Ummat Islam berinteraksi dengan al-Qur`an.

Muslim dan cara pandang terhadap Al-Qur`an

Pertama. Al-Qur`an merupakan kitab Allah Swt yang terdiri dari kalimat-kalimat yang di sampaikan kepada Rausul-Nya yang terakhir. Kalimat-kalimat al-Qur`an seratus persen bersumber seluruhnya dari Allah Swt secara lafal dan ma`nanya.
Al-Qur`an telah diwahyukan kepada Nabi-Nya Muhammad Saw melalui perantara Malaikat Jibril. Hal ini disampaikan sendiri oleh Allah Swt, Seperti yang dijelaskan didalam al-Qur`an; inilah suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta di jelaskan secara terperinci yang di turunkan dari sisi Allah yang maha bijaksan lagi maha mengetahui” (QS. Hud, 1), kemudian dalam ayatNya yang lain Allah Berfirman ; Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar di beri Al Quran dari sisi Allah yang maha bijaksana lagi maha mengetahuai” (QS. an-Naml, 6) dan terdapat di dalam firmannya yang lain bahwa Al qu`ar itu memang diturunkan dari diri Allah Swt, bukan perkataan Muhammad atau Manusia apalagi di buat-buat oleh Jin “Dan kami (Allah) turunkan Al Quran itu dengan sebenar-benarnya, dan Al quran itu telah turun dengan membawa kebenaran. Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan sebagai pembawa berita gembira dan peringatan” (Qs. Al Isra`105) sebahagian Ulama berkata tantang Firman Allah “maka jika di Tanya kepadamu (Muhammad) tentang Ruh, katakankaanlah bahwa ruh itu adalah Urusan Allah” (Qs. Al Isra` 85), sesungguhnya yang di maksud dengan Ruh yang terdapat dalam Ayat diatas adalah al-Qur`an. Karena Ayat-ayat sebelum dan sesudahnya berbicara tentang al-Qur`an. Jadi tidak perlu di ragukan lagi bahwa Ruh (alquran) adalah bersuber dari Allah Swt.


Dari ayat – ayat al-Qur`an diatas dengan menggunakan cara sudut pandang kita sebagai Muslim tentu meyakini secara total seratus persen bahwa al-Qur`an merupakan kalimat-kalimat Allah Swt yang bukan rekayasa manusia atau Nabi Muhammad yang mengajarkan kitab Al Qur`an tersebut kepada manusia. Akan tetapi Al-Qur`an merupakan ruh Rabbaniyah yang menghidupkan akal pikiran dan hati, serta sebagai Dustur ilahy yang mengatur kehidupan manusia secara individu dan masyarakat.


Keyakinan seorang Muslim terhadap al-Qur`an sebagai firman Allah Swt secara Lafal dan makna, merupkan bukti dari keiman serta keyakinannya terhadap kitab Allah tersebut, dengan keyakinan itu, seorang Muslim tidak akan ragu dengan kebanaran-kebenaran yang terkandung didalamya untuk di jadikan petunjuk (hudan), undang kehidupan (dusturul Hayat), tatacara kehidupan (manhajul Hayah), serta sumber ilmu pengetahuan (Manbaul Ulûm wal ma`rifah di seluruh aktivitas kehidupan kesehariannya. Allah Swt, berfirman, "itulah kitab Al quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa". (QS. Al-Baqarah, 2)

Kedua, Al-Qur`an adalah kitab yang terjaga (mahfuz), yang dijaga sendiri oleh Allah Swt, (dari penyelewengan dan perubahan-perubahan). Allah Swt, berfirman "sesungguhnya kami telah menurunkan Al Quran dan kami pulalah yang menjaganya".(QS. Al-Hijr, 9).


Ayat diatas menunjukkan bahwa keaslian kitab al-Qur`an tidak perlu diragukan, karena penjagaan keasliannya langsung oleh Allah Swt. Penjagaan al-Qur`an tidak di serahkan kepada seseorang atau pada suatu kaum seperti halnya kitab taurat dan injil yangmana penjagaannya diserahkan kepada kaumnya. Sebagaimana firman Allah yang maknanya"…disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya".(QS. Al-Maidah, 44)
Penjagaan kitab-kitab oleh kaumnya masing-masing menyebabkan banyaknya tangan-tangan jahil yang merubah kitab-kitab tersebut dari aslinya, kemudian mereka berkata, sesungguhnya ini datangnya dari Allah, padahal itu perkataan meraka sendiri, dalam Al- qur`an Allah menjelaskan "kemudian mereka menulis dengan tangan mereka, lalu mereka berkata sesungghnya ini datangnya dari Allah Swt"
Kepalsuan kitab taurat dan injil bisa dilihat dengan banyaknya kitab-kitab injil yang muncul dan hingga saat ini orang barat sendiri masih mempertanyakan siapa yang menulis bible (Who wrote the Bible? by Richard Elliot Friedman, 1987). Perubahan interpretasi tentang biblepun senantiasa berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan keperluan manusia.

Ketiga, Al -Qur`an adalah kitab yang mengagumkan. Ia merupakan kitab mukjizat yang diberikan Allah Swt, kapada Nabi Muhammad Saw. Yang didalamnya terdapat keistimewaan yang tidak terhitung dan tidak dapat ditandingi oleh orang Arab dan lainnya.
Dr. yusuf Al Qordhowi menyebutkan syarat-syarat kekaguman Al Qur`an dibanding yang lain sebagai berikut,
Pertama, al-Qur`an adalah kitab argumentatif. Dimana al-Qur`an memiliki argumentasi bagi orang yang mengingkari Serta yang komitment terhadap kebenaran. Sebab itu Al Qur`an sebagi kitab mu`jizat menantang siapa yang mampu membuat (ayat-ayat) seperti Al Qur`an.? Tentu tidak ada yang mampu, walaupun mahkluk jin dan manusia bekoalisi untuk membuat seperti Al Quar`an maka mereka tentu tidak akan mampu.


Kedua, Kitab solutif bagi seluruh permasalahan. Sebagai contoh, orang Arab mempertahankan akidah yang mereka yakini sebelumnya. Akidah yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, tatanan kehidupan yang mereka jalani, serta cara peribadatan yang mereka lakukan. Kemudian datang ajaran al-Qur`an untuk menentang semuanya itu.
Ketiga, bersifat kompetitif. Suatu contoh, andaikata Al-Qur`an turun di Australia dalam bahasa Arab, kemudian meminta orang arab untuk menandingi al-Qur`an itu dan tidak ada seorangpun yang mampu menantangnya, Maka batallah sayarat keagungan (i`jaz) dari Al Qur`an itu, karena adanya halangan geogarfis yang cukup jauh untuk menandinginya.
Ayat-ayat Al Qur`an yang menjelaskan tentang hal-hal diatas seperti dalam firman Allah Swt,

قل لئن اجتمعت الانس والجن على ان يأتوا بمثل هذ القزان لا يأتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيزا

Artinya "Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".( Qs. Al Isra` 88)

Artinya “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah 23-24)
Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.

Keempat, Al qur`an adalah Kitab yang mudah, memiliki gambaran eksplenasi yang terang dan jelas. Tidak sperti buku-buku filsafat yang memiliki penjelasan yang rumit dan teoritis. Bukan juga seperti buku-buku yang banyak menggunakan simbol-simbol yang tidal langsung kepada pokok pikiran dan inti. Dan lain-lainya. Akan tetapi Al Qur`an dapat dapat dipahami oleh akal pikiran biasa yang tidak perlu merengutkan kening untuk memahami kata-kata dan kalimat yang ada didalamnya. Hal itu karena Al Qur`an datang untuk memebrikan petunjuk kepada seluruh manuisa dengan kalimat-kalimat Allah Swt. Berbicara tentang akal dan hati, perasaan dan diri manusia. Dengannya akal mendapatkan cahaya, hati memperoleh ketenangan, fisik mendapakan energi, yang menghasilkan sinergi untuk beramal.
Allah Swt berfirman didalam Al Qur`an,

ولقد يسرنا القرآن فهل من مدكر
Artinya "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (Qs. Al Qomar , 17)


فانما يسرناه بلسانك لعلهم يتذكرون

Artinya "Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran." (Qs. Al Dukhaan, 58)

انا أنزلنا قرآنا عرابيا لعلكم تعقلون

Artinya "Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya." (Qs.Yusuf, 2)

Kelima, Al-qur`an adalah kitab Agama-agama secara menyeluruh. Ia merupakan tiang dari Agama-agama, yang didalamnya terdapat hal-hal yang berhubungan dengan akiidah, undang-undang (tastyri`), Akhlak, serta kehidupan sosial dan lain-lain.
Sebab itu ketika al-Qur`an turun kepada Nabi Muhammad, al-Qur`an menyeru kepada seluruh Ahlul kitab untuk kembali kepada kalimat yang satu, Yaitu kalimat "tidak ada tuhan yang berhak disembah selaian Allah Swt. Seperti yang difirmanakan Allah Swt.

قل يا اهل الكتاب تعالوا الى كلمة سواء بيننا و بينكم الا نعبد الا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا اربابا من دون الله فان تولو فقوولوا اشهدوا بأنا مسلمون

Artinya "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri ".
Ajakan diatas hanya terdapat didalam Al Qur`an. Karena Al qura`an turun kepada Islam, dan Islam adalah satu-satunya Agama yang diridhoi oleh Allah Swt sekaligus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah Swt,

ان الدين عند الله الاسلام وما اختلف الذين اوتوا الكتاب الا من بعد ما جاء هم العلم بغيا بينهم (ال عمران 19)

Artinya "Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka.
Ayat ini menununjukan bahwa agama yang diridhoi oleh Allah adalh Islam yang kitab sucinya adalah al-Qur`an, bukan kitab-kitab yang lain.

penutup
pandangan seorang Muslim terhadap al-Qur`an tentu berbeda dengan pandangan orientalis Barat yang jelas tidak meyakini al-Qur`an sebagai kitab sacral dan suci.
Islam yang kitab sucinya al-Qur`an mengajarkan ummatnya untuk meyakini sepenuhnya bahwa al-Qur`an adalah kitab Allah Swt, yang cocok untuk setip zaman dan tempat, semenjak diturunkan Allah Swt, hingga hari kiamat.
Semenjak Rasulullah, para sahabat, tabiu tabiin dan para ulama salaf, tidak pernah membincangkan dan mempermasalahkan bahwa al-Qur`an harus dirubah teksnya mengikuti perkembangan zaman dan keperluan manusia. Justeru al-Qur`an yang diyakini seratus persen kalam allah swt, dan diaplikasikan dalam akativitas kehidupan mengantarkan generasi salaf dahulu kepada kejayaan dan berperadaban tinggi.


Sebaliknya, ketika al-Qur`an di marjinalkan dengan mengabaikan ajarannya, ummat islam menjadi mundur dan terbelakang dalam semua lini kehidupan. Catatan sejarah membuktikan bahwa akibat kemunduran dan jatuhnya peradaban islam karena mereka telah jauh dan meninggalkan al-Qur`an.
Generasi khalaf (belakangan) mencari solusi agar ummat Islam bagkit kembali dan menjadikan Islam sebagai peradaban global dengan mengikuti gaya Barat, merubah teks kitab sucinya agar disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan manusia walau hal itu bertentangan dengan teks orisinil kitab yang dipegangnya.


Berbagai macam carapun dilakukan, baik dengan menghantam teks al-Qur`an itu sendiri secara langsung maupun merubah interpretasinya dengan hermeneutika gaya biblenya Kristen.


Mereka telah melupakan fakta sejarah yang mencatat bahwa titik klimak kejayaan islam dengan peradabannya yang tinggi, karena generasinya setia memegang al-Qur`an sebagai pedoman hidup, sebaliknya, kejayaan peradaban barat karena mereka meninggalkan ajaran kitab sucinya yang dianggap bermaslah.

Wallahu a`lam

Friday, April 17, 2009

ALUMNI MESIR KRISIS METODHOLOGI; BENARKAH?

Sekarang ini, bagaimana Bapak melihat kondisi Masisir?
…….. Mahasiswa al-Azhar kaya dalam bahan dan materi tapi lemah dalam hal teori dan methodologi

Ada rencana untuk pembinaan methodologi untuk Masisir sini langsung?
…….. Mahasiswa lulusan al-Azhar yang datang di UGM saya katakan methodologinya “kurang canggih” ……….. karena saya melihat Barat begitu cepat menyelesaikan persoalan karena mereka menguasai teori dan methodologi.. (baca Terobosan 1 Maret 2009 hlm, 12)

Wacana krisis methodology alumni Mesir tetap saja menyebar hingga hari ini, bahkan beberapa alumni Mesir sendiri mengamini wacana yang berkembang ini dan merasa inferior dengan alumni barat yang konon menguasai methodologi dalam menyampaikan pesan agama. Hal ini tentu saja akan merusak reputasi mahasiswa Mesir khususnya dan alumni Timur Tengah umumnya di tengah masyarakat Indonesia yang terkesan rigit, tekstual, kolot, fundamntalis. Sementara alumni Barat dianggap sebagai moderat, ingklusif, rasional, kontekstual yang lebih diterima oleh masyarakat plural Indonesia.
Wacana ini tentu saja bukan muncul secara kebetulan, akan tetapi timbul dari istilah yang dibuat secara sistimatis yang bersandarkan pada pandangan hidup tertentu.
Jika diteliti secara kritis dan di diagnosa secara ilmiah, wacana ini pada dasarnya tidak berlandaskan pada realitas fenomena dan argumentasi logis. Walaupun demikian tetap saja Barat, alumni-alumni Barat bidang Islamic studies, bahkan alumni Mesir dan timur tengah yang terpengaruh menyebarkan virus methodology barat dalam ranah Islamic studies.
Sebagai mahasiswa timur tengah tentu memiliki interpretasi tersendiri dengan persepsi yang diwacanakan oleh mereka. Sebab itu muncul pertanyaan dalam pikiran penulis, krisis metodologi apa yang di maksud ?. Pertanyaan ini penting untuk diajukan sebagai langkah awal dalam menetukan jawaban “benar”tidak”nya sebuah persepsi yang muncul.
Metodologi dari bahasa inggris methodology adalah sebuah istilah yang memilki makna principles and methods of a particular branch of knowledge or discipline, atau a system of methods used in particular field. Dan didalam bahasa Arab istilah ini kadang diarabkan menjadi al-MîtÔdûlujiyâ dan kadangkala diterjemahkan dengan Manhajiyah atau Ilmul Manhaj yang memilki pengertian seperti yang didefinisikan dalam buku mustholahât al-Fikri al-Hadîst adalah sistem pemikiran dan analisa yang digunakan untuk meneliti seluruh cabang ilmu pengetahuan. Definisi ini meliputi pengertian yang sama dari dua definisi sebelumnya.
Jika ditinjau dari sejarah penggunaan istilah methodology atau manhajiyah didalam cabang lmu pengetahuan Islam sebenarnya tidak asing lagi bagi intelektual yang bergulat di dunia turath, karena istiah ini telah digunakan oleh beberapa ulama klasik seperti, Imam Syafi`I dalam ilmu Fiqh, Ibnu Sina dalam flsafat dan beguitu juga ibnu Rusd. Walaupun saat itu belum menjadi sebuah istilah yang mapan dalam cabang ilmu pengetahuan Islam, karena istilah ini mejadi mapan sekitar abad ke 18 dan 19 M.
Sebab itu perlu dicermati penggunaan istilah methodology yang telah di gunakan oleh ulama Muslim klasik dalam cabang ilmu pengetahuan Islam, dan methodology yang dimaksud oleh Barat dalam menganalisa seluruh cabag ilmu pengetahuan, dan dalam Islamic studies khusunya.

Istilah methodology ini juga digukan dalam filsafat mekanika, yang pada mulanya istilah ini di barat bemakna nilai filsafat sebagai faktor kajian yang diikuti oleh kaidah pemikiran dan analisa tertentu. Sekitar abad ke 20 M. maknanya menjadi bergeser lebih dekat dalam kontek filsafat teori, yang membentuk atau membangun seluruh pemikiran yang meliputi ruang linkgup seluruh fakultas dan bidang dari seluruh ilmu pengetahuan. Dalam bahasa lain bahwa methodology adalah sebuah sistem atau framework berfikir untuk mengarahkan sebuah analisa tertentu.(lihat mustholahât al-Fikri al-Hadîst jild II).
Dari penjelasan diatas, menimbulkan pertanyaan, kalau begitu mtohodoogi apa yang digunakan oleh Barat dalam mengkaji dan menganalisa cabang Imu pengetahuan Islam?
Sebelum penulis menjawab pertanyaan diatas, alangkah baiknya kita mengetahuai tereih dahulu landasan dasar atau pijkan dari methodology yang dibangun dalam menganalisa seluruh cabang ilmu pengetahuan, khususnya terhadap cabang ilmu pengetahuan Islam. hal ini sangat penting, karena berhubungan dengan pandangan hidup sekaligus cara pandang.

Pandangan hidup sebagai landasan dasar methodology

Methodology apapun yang dibangun dalam setiap cabang ilmu pengetahuan sangat tidak tidak terlepas dari pandangan hidup apalagi yang berkaitan dengan cabang ilmu-ilmu Islam. Dan pandangan hidup tentu akan mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap sesuatu.
Pandangan hidup bersumber dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupan. Faktor itu bisa jadi berasal dari kebudayaan, filsafat, agama, tata nilai kemasyaraktan, atau lainya. Dan dunia barat semenjak abad modern pandangan hidup dibangun atas dasar filfasafat. filasafat yang semata mengagumkan rasionalitas, dengan itu pada abad modern akal barat disebut dengan `akal modern` (modern mind). Yang pada intinya abad ini adalah state of mind, atau penerapan cara berfikir rasioanal kedalam seluruh aspek kehidupan yang akhirnya bermuara menciptakan masyarkat rasional (ratinal society), yaitu suatu masyarakat yang segala kegiatannya termasuk agama dikontrol oleh akal. Dan elemen penting selain rasionalisasasi pada abad ini adalah sekularisasi yang meletakan agama dan Tuhan secara sentral hanya terbatas pada para teolog sedangkan para filosof lebih tertarik kepada sains atau dalam basaha yang sering kita dengar da` mâ li kaisar li kaisar wa mâ lillah-lillah

Pada abad post-modern yang bermula pada abad ke 19, asas pandagan hidup Barat bergeser kepada pengingkaran terhadap salah satu cabag ilmu filasafat, yaitu filsafat metafisika adalahTeori filasafat yang mengakaji sebab dibalik realitas yang wujud (Nazriyatu as-Sabab mâ warâ`a at-Thobî`ah). Dan akal post-modern (post-modern mind) adalah pengingkaran terhadap pemkiran metafisis yang berimplikasi pada pengesampingan terhadap doktrin agama dan kematian Tuhan.

Islam sebagai agama memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan pandangan hidup Barat dan agama-agama lain. Pandangan hidup itu disebut oleh beberapa pemikir Islam dengan menggunakan istilah yang berbeda seperti al-Maududi mengistilahkannya dengan Islâmi Nazariât, Sayyid Qutb mengistilahkannya dengan at-Tashawwur al-Islâmi, Naquib al-Attas dengan Ra`yatu al-Islâm lil wujûd. Semuanya memiliki makna yang tidak jauh dari pandangan hidup Islami.
Jika dapat diringkas karaktersitis pandangan hidup menurut beberapa intelektual Muslim diatas, sekaligus yang membedakan antara pandangan hidup Islam dan pandangan hidup lainnya adalah: pertama, ia bersumber dari wahyu Allah. Kedua, berdasarkan konsep agama (ad-Dîn) yang tidak terpisah dari Negara dan ketiga, kesatuan antara spritiual dan material.
Landasan pandangan hudup Islam dan barat tentu sangat jauh berbeda. Islam memandang alam dan segala aktiviatasnya dengan konsep syumul (komprehensif) sedang barat memandangnya secara parsial (juz`i). Islam memandang Islam sebagai agama yang sempurna dengan konsepnya sendiri yang komprehensif, sedang barat memandang Islam yang sempurna dengan landasan filasafatnya yang parsial.
Perbedaan padangan hidup hidup berimplikasi pada perbedaan cara sudut pandang (wijhatu an-Nazr), fremawork berfikir serta methodelogi yang dibagun dalam menganalisa cabang ilmu pengetahuan secara global dan branches of Islamic studies secara khusus. Karena itu methodology yang dibangun oleh ulama Salafusholeh dalam cabang ilmu pengetahuan apapun dan Islam khususnya berlandaskan pada pandangan hidup Islam (Islamic worldview) sehingga kaedah, framework berfikir yang dibangun menghasilkan methodology Islami pula. Sebab itu tidaklah ojektif jika cabang ilmu pengetahuan Islam menggunakan methodology yang dibangun oleh pandangan hidup barat yang berlandaskan pada akal modern (modern mind) dan akal post-modern (post modern mind).
Sebab itu tidak heran sebahagian pelajar muslim yang belajar Islamic studies di barat baik materi yang disugukan mapun menthodology yang digunakan mengandung sejumlah kerancuan dan tidak-obyektif dan bias dalam menjelaskan Islam. Hal itu sengaja dilakukan barat agar Islam hancur dengan ummatnya sendiri. Ini bukan wacana, tapi sebuah realitas yang terjadi hari ini. sebab itu penulis ingin menguak methodology yang digunakan barat dalam mempelajari cabang ilmu-ilmu pengetahuan islam, sebagai jawaban dari pertanyaan sebelumnya, selain itu agar kita sebagai mahasiswa Islam Mesir dan Timteng kritis dengan munculnya wacana yang tidak bertanggung jawab.

Methodology Barat dalam mengkaji Islamic studies

Mengkritik methodology kajian orientalis terhadap cabang ilmu pengetahuan islam sangat penting, hal itu karena apa yang mereka lakukan bukanlah atas dasar kajian murni ilmiah, malainkan terdapat motif-motif tertentu, diantaranya seperti motif Agama, politk, ekonomi yang kemudian menjadi kolonialisme.
Dalam kajian Islamic studies di barat secara umum dimulai dengan keraguan (hesitancy). Dimana segala sesuatu harus berdiri diatas keraguan kemudian dengan pendekatan kritik (criticsm).semuanya harus letak dalam diskursus kritis ( critical discourses). Dan yang ketiga, dengan pendekatan nalar filsafat (natural existence philosophy). dari ketiga pendektan ini tentu hasilnya akan melahirkan keraguan pula.
Sebagaia contoh methodologi kajaian orentalis Barat terhadap teologi Islam. Dimulai dari ketidak percayan terhadap Tuhan (atheist). Kalaupun percaya naskah (kitab) Tuhan itu harus di kritik (textual criticms), kritik terhadap sumber karya naskah tersebut (source criticism), kritik terhadap sejarah naskah (Historical Criticism), melalui pendekatan filsafat dan harus sesuai dengan konteks sejarah pemikiran manusia.
Methodology kajian orientalis terhadap al Quran dimulai dari keraguan bahwa seluruh naskah al Quran itu tidaklah sempurna dari Allah Swt, bahkan statusnya sama dengan biblem sehingga pendekatan kajiannyapun menggunakank kritik bible (biblical criticism). Pelopor penerapan methodology ini adalah Theodore Noldek, Edward Sell, Pendeta Al-phonse mingana, Arthur Jeffery dan lain-lain. Dan pendekatan lain yang dilakukan adalah pada methodology interpretasi al-quran yang telah dilakukan oleh para mufassirin menurut mereka tidak sesuai dengan konteks zaman dan keperluan manuasia, sebab itu methodology hermeneutika al-quran adalah sangat tepat sebagai solusi altermatif.
Dalam kajian Hadsit, orientalis Barat memulai dengan mempersoalkan kedudukan Hadist dalam Islam, kemudian meragukan sumbernya yaitu Nabi Muhammad Saw, meragukan sanadnya, dimana seperti hadist Riwayat Bukhari dan Muslim tidaklah semuanya shohih dan di terima. Paling tidak sebagian dari hadist itu ditolak. Begitu pula keraguan terhadap matannya, yang dainggap hanya kumpulan anekdot yang menarik. Orientalis yang menekuni bidang ini seperti, Alois spenger, William Muir, Ignaz Goldziher, Alfred Guillaume dan yang lainnya.
Begitu pula methodology orientalis Barat dalam kajian sejarah Islam, lebih cendrung menonjolkan konflik yang muncul dalam kelompok-kelompok Islam setelah wafatnya rasulullah, sehingga yang terlihat hanya sederetan sejarah kelam Islam masa silam. Disamping itu manipulasi dan distorsi sejarah dilakukan agar generasi Islam masa depan buta terhadap sejarah Islam yang benar.

Kesimpulan

Wacana krisis methodology mahasiswa Mesir dan timteng menurut penulis adalah wacana yang tidak beralasan, karena seluruh cabang ilmu pengetahuan islam methdologinya telah di rumuskan oleh ulama salaf yang berasaskan padanganhidup Islami, dan methodology itu yang kita pelajari di mesir dan timur tengah umumnya. Sebagai contoh, para mufassir klasik telah menentukan methodology baku dalam menafsirkan al-Qur`an, dengan kaedah-kaedah yang telah di tetapkan, dan methodology tafsir tidak bisa disamakan apalagi diganti dengan methodology hermeneutika yang diusung barat. Karena pertama, pandangan hidup yang berbeda. Kedua, perbedaan sejarah (historical distinction)dan ketiga, perbedan sumber teks (the text source distinction) dan perbedaan dari teks itu sendiri.
belajar methodology Islamic studies di barat akan melahirkan keancuan berfikir dan kesimpulan mengambang. Maka tidak heran mereka yang belajar Islamic studies di barat baik materinya maupun methodologinya berfatwaa seenak dewe. hukum memakai jilbab bagi perempuan muslimah adalah produk budaya, homoseksual mubah, fiqh lintas agamapun muncul. Dan faham plurisme, liberalism, pluralisme akan menjadi legal dalam ranah Islamic studies.

Kalaupun krisis methodology yang dimaksud adalah kurangnya menguasai bahasa asing khsusnya istilah-istilah inggris (barat), atau art of presentation, penulis pikir hal itu bukanlah apa yang disebut dengan methodology, melaikan hanya sekedar instrument atau Fannul Khithobah (seni bahasa).


Wallahu a`lam